Posts

Showing posts with the label blog

Negara Perempuan

"Halo!" "Halo! Dari siapa di mana?" tanya Rani singkat. Mulai lagi. Sulit memang mengerti perempuan satu ini. Tiada hari tanpa tindakan konyol. Bahkan, mengangkat telepon bisa menjadikannya seperti pembawa acara kuis di televisi. Pernah suatu kali kami bertengkar hebat karena Rani kesal. Bukan kesal karena apa-apa, melainkan siklus menstruasi dan segala tetek-bengek emosi sesaatnya. Aku menanyakan perihal makanan apa yang akan kami santap siang itu, dia hanya berkata "terserah". Giliran kuajak dirinya makan di salah satu warteg kesukaan kami, mukanya cemberut dan berujung dengan gerutu tanpa akhir. Lalu kejadian itu berlanjut hingga malam hari di depan rumahnya. Menurutnya, aku tidak mengerti perasaannya. Aku yang sudah cukup sabar menghadapinya seharian, naik pitam. "Lantas kamu mau apa, Ran? Makan ini enggak mau, jajan itu enggak mau, maunya apa?" tanyaku saat itu dengan nada marah. Dia sontak terkejut dan air matanya berlinang seke...

Terjebak atau Sekarat

Glad seharusnya mendengarkanku. Srek . Sesuatu bergerak, Glad. Mereka bergerak. Setiap langkah yang menyeretmu lebih dalam, datang kembali. Kawanan serigala itu telah mengetahui tempat persembunyian apik yang telah kaubuat. Ah, kayu ek brengsek! Aromanya tidak cukup kuat untuk mengelabui endusan mereka terhadapmu. Harusnya, kau mendengar saran Mora si penakut itu untuk pergi. Namun, percuma. Mereka selalu dapat menangkapmu kapan dan di mana saja. Bulan di atas kepala kita tampak semakin membulat. Tanda bahwa mereka akan bangkit besok. Desa itu akan runtuh, Glad. Runtuh! Mau ke mana lagi kau akan berlari. Tidak selamanya yang kauanggap tepat, ternyata menyelamatkanu dari kejaran mereka. Mereka hanya menginginkanmu. Bahkan, jubah besar dari kulit beruangmu tidak cukup untuk menahan satu gigitan mereka. Baiklah. Glad si Lycan hebat satu ini tidak bergeming setelah aku panjang lebar menceramahinya. Dia lebih memilih diam dengan pisau di tangan kanannya. Menurutmu, kau cukup pinta...

Guratan Sepasang Ekor Mata

Sungguh, takmudah bagi saya memberi judul blog dengan kalimat di atas. Bukan hanya karena puisi yang akan diulas adalah milik seorang teman sekaligus pemberi tantangan menulis ini, melainkan juga karena 'sebatang pensil warna' yang ada di antara judulnya. Namun, dengan mengucapkan basmalah, saya akan mengulas sebuah puisi berjudul Ekor Matanya Sebatang Pensil Warna karya Amel Widya. Secara leksikal, pensyair berhasil mencuri perhatian saya. Bagaimana tidak? Dua cerita dengan konflik berbeda berhasil ia satukan dengan suatu objek sederhana, pensil warna. Dari sanalah, Amel mengembangkan gagasan tentang keresahan seorang wanita dan negara dalam sepasang ekor mata yang menjelma layaknya pensil warna dengan penuh guratan di atas kanvasnya. Secara bertahap, kisah keresahan ini diperdalam dalam akhir-akhir baitnya, seolah kita diberi petunjuk sedikit demi sedikit mengenai kilas balik reformasi di tahun 1998 sekaligus perasaan seorang istri yang menjadi tokoh pencerita. Jujur, ...

Telur Setengah Matang

Image
Tepat di Kamis malam ini, aku merebahkan seluruh harap di atas sajadah. Menutup seluruh auratku dengan mukena putih satin pemberiannya. Hening mengalun dan sebulir-dua bulir air keran di wajahku ikut bersaksi bahwa tiada nikmat lagi yang dapat kudustakan selain seluruh berkat dan rahmat yang telah diberikan oleh sang pemilik semesta. Tepat satu saf di depanku, pria dengan helaian panjang menjutai di punggung mengucapkan kalimat takbir sembari mengangkat tangannya yang kokoh nan lembut. Terang malam kami turut menyuguhkan tontonan baru di hidupku. Untaian surat-surat pendek yang terdengar semakin meyakinkanku, aminku terjawab. Sebuah kamar dengan jendela kaca besar di hadapan serta aroma bunga terasa hangat memelukku. Tiada harum yang tak bermakna pada kejadian pagi tadi. Sebuah akad telah terlaksana. MELATI - melat saka njero ati . Kami bersujud dalam ketulusan, dari hati terdalam. Kami saling mencintai karenaMu, Tuhan. KANTIL - kanthi laku tansah kumanthil.  Deng...

Tahu Bulat

Image
Bulan berakhiran -ber selalu saja dipenuhi rintikan hujan. Tak jarang, disertai angin yang dapat menyapu dedaunan di tengah jalan. Sungguh ini bukanlah hal yang menyenangkan. Entah apa yang dipikirkan para penyuka hujan itu. Mereka bilang kalau hujan itu menenangkan dan menyenangkan. Tidak untukku. Baru saja memoles motor kesayangan, hujan dengan jahilnya berhasil mencipratkan lumpur dalam waktu sekejap. Namun, sudahlah. Tuhan menurunkan rahmat-Nya bagi kami dan alam semesta bukan tanpa alasan. Aku melintasi jalanan menuju kantor dan kulihat seorang wanita berjalan di trotoar dengan jaket lepek yang membungkusnya. Namun, bukan itu saja yang kuperhatikan meski sesaat. Matanya berlinang dan tangan gemetarnya tampak memeluk kedua lengan atasnya. Haruskah aku menurunkan gasku dan menghampirnya? Aku gusar memikirkannya. Tidak, bukan gusar memikirkannya. Aku teringat diriku yang dulu, menatap wanita tercinta sedang meraba pipi seorang pria yang kukenal sejak SMA. Layaknya pemer...

Aku Tak Rindu Kampung Halaman

Image
"Lur, sampeyan ndak pulang?" "Ndak, Mbakyu. Lemburanku sedikit bulan ini. Tampaknya, bulan depan aku baru bisa mengunjungi ibuk dan bapak. Njenengan sendiri ndak berniat menjemput anak, tho?" "Gajiku sudah habis untuk keperluan uang pangkal sekolah anakku," jawabku sambil membakar sebatang rokok filter yang sedari tadi tersimpan di balik saku celana. Sore itu, aku dan Sigit tengah asik menikmati cahaya matahari kemerahan yang menyapu hampir separuh pandangan kami ke langit. Jakarta tampak lengang hari itu. Lebaran tampaknya tak cukup menjadi prioriatas bagi perantau seperti kami. Aku hanya menatap obrolan dari layar ponsel sembari sesekali memerhatikan dirinya yang tengah mengupas apel pemberian tetangga. Tak lama, ia membagikan sepotong besar untukku. Belum habis potongan apelku, serombongan remaja dengan satu ondel-ondel melewati kami. Berpakaian seperti pengamen pada umumnya, salah seorang dari mereka menghampiri kami dengan satu ember bek...

Sedotan Besi

Hujan. Satu kata yang jadi pujaan banyak orang atau sekadar menjadi bahan tulisan di blog mereka. Kau tahu, aku juga salah satunya. Aku memang tak pandai mengartikan tetes demi tetesnya. Tak seperti untaian kata Zarry Hendrik yang di dalamnya tersisipkan energi besar untuk para pembaca setianya, atau mungkin orang yang ia kasihi. Bagiku, hujan layaknya kumpulan keajaiban yang dapat membawamu lebih dalam pada setiap momen. Entah itu kesedihan, keriaan, bahkan penyerta sebuah pertengkaran. Layaknya yang terjadi pada  kami beberapa hari lalu. Malam itu, aku memutuskan untuk membatalkan pertemuan kesekian kami hanya karena satu alasan. Lelah. Tak banyak yang bisa kuungkapkan selain kata maaf. Semua bermula ketika ia meninggalkanku pada acara makan malam pekan lalu. Eh, berarti itu bukan awal mulanya, kan? Oke, oke. Aku akan jujur. Aku cemburu. Cemburu melihatnya beberapa kali menyentuh bahu seorang wanita yang kutahu sebagai kenalan lamanya. Kenalan, Na? Menyentuh bahu? Apakah it...

MOVIE REVIEW : BIRD BOX (2018)

Image
source : Official Trailer Bord Box by Netflix - Youtube Hai... Gimana libur natal kemarin? Sudah menonton apa saja? Seperti janji-yang-telat sebelumnya di twitter atau instagram, kali ini, saya akan membahas satu film yang diperankan tokoh utama kesayangan dari SD, Sandra Bullock. ( AAAAA!!! ) , Bird Box! Pertamanya, sempet ragu nonton ini karena selain saya yang sudah enggak biasa dengan film thriller (secara jantung udah enggak kuat). Namun, cuplikan film Sandra Bullock satu ini amat menggoda. Dengan pola cerita serupa dengan A Quiet Place atau Hush, Bird Box mengangkat cerita seorang Malorie (Sandra Bullock) beserta kedua anaknya menyusuri sungai jeram untuk menyelamatkan diri dari serangan makhluk aneh. Tentunya, dengan syarat mereka harus menutup mata. Film sendiri dimulai dengan fenomena teror aneh yang menyerang mulai dari Kanada hingga ke Michigan. Semua orang mendadak melakukan aksi bunuh diri tanpa sebab. Kejadian serupa dijumpai Malorie hingga akhirnya ia...

Kompor Meledak

Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui,  deng . Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga. Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak ...

Panci Gosong

Tampak  tak menggairahkan. Seorang pria yang sudah tak muda lagi berdiri di hadapanku. Ah, hitam legam lagi. Namun, kalau diperhatikan, tidak sehitam yang kubayangkan. Hanya beberapa warna gelap di setiap lipatan kulit pergelangan tangan, leher, maupun lesung pipit manis yang terlihat nyata dengan senyuman pertamanya. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan malam ini agar tampak  lebih baik seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tak banyak yang ia utarakan selain kata 'iya', 'belum', atau sekadar dehaman. Ini adalah kali pertama ia menemukan wanita sepertiku, katanya. Ah, sudah beberapa pria berkata demikian. Lelaki seringkali berbohong, Lin! Namun, ada sensasi berbeda pada malam berhujan rintik kali ini. Nada bicara pria ini tak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk memilikiku. Raut wajahnya pun tetap datar. Entah apa aku yang terlalu lemas setelah menenggak setengah botol Amer  tadi atau memang ke-terlalu-biasa-annya membuatku terbuai. Bahkan, gerakan menyi...