Negara Perempuan
"Halo!" "Halo! Dari siapa di mana?" tanya Rani singkat. Mulai lagi. Sulit memang mengerti perempuan satu ini. Tiada hari tanpa tindakan konyol. Bahkan, mengangkat telepon bisa menjadikannya seperti pembawa acara kuis di televisi. Pernah suatu kali kami bertengkar hebat karena Rani kesal. Bukan kesal karena apa-apa, melainkan siklus menstruasi dan segala tetek-bengek emosi sesaatnya. Aku menanyakan perihal makanan apa yang akan kami santap siang itu, dia hanya berkata "terserah". Giliran kuajak dirinya makan di salah satu warteg kesukaan kami, mukanya cemberut dan berujung dengan gerutu tanpa akhir. Lalu kejadian itu berlanjut hingga malam hari di depan rumahnya. Menurutnya, aku tidak mengerti perasaannya. Aku yang sudah cukup sabar menghadapinya seharian, naik pitam. "Lantas kamu mau apa, Ran? Makan ini enggak mau, jajan itu enggak mau, maunya apa?" tanyaku saat itu dengan nada marah. Dia sontak terkejut dan air matanya berlinang seke...