Sedotan Besi
Hujan. Satu kata yang jadi pujaan banyak orang atau sekadar menjadi bahan tulisan di blog mereka. Kau tahu, aku juga salah satunya. Aku memang tak pandai mengartikan tetes demi tetesnya. Tak seperti untaian kata Zarry Hendrik yang di dalamnya tersisipkan energi besar untuk para pembaca setianya, atau mungkin orang yang ia kasihi. Bagiku, hujan layaknya kumpulan keajaiban yang dapat membawamu lebih dalam pada setiap momen. Entah itu kesedihan, keriaan, bahkan penyerta sebuah pertengkaran. Layaknya yang terjadi pada kami beberapa hari lalu.
Malam itu, aku memutuskan untuk membatalkan pertemuan kesekian kami hanya karena satu alasan. Lelah. Tak banyak yang bisa kuungkapkan selain kata maaf. Semua bermula ketika ia meninggalkanku pada acara makan malam pekan lalu. Eh, berarti itu bukan awal mulanya, kan? Oke, oke. Aku akan jujur. Aku cemburu. Cemburu melihatnya beberapa kali menyentuh bahu seorang wanita yang kutahu sebagai kenalan lamanya. Kenalan, Na? Menyentuh bahu? Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Entahlah, kau tahu bagaimana seorang Aquarius jika sudah berpikir terlalu jauh? Silakan kau bayangkan sendiri.
Namun, ini sudah menginjak dua minggu dan tidak ada satu pun obrolan darinya yang muncul di layar ponselku. Apakah ia marah atau justru menganggap aku masih membutuhkan waktu lebih? Biarlah. Kuturuti saja emosinya yang masih menyisakan beberapa amarah. Tidak ada istilah 'telepon lebih dulu' untuknya. Huhft.
"Di mana?" layar ponselku menyala. Aku tetap diam tapi beberapa bagian badanku berontak. Tidak! Diam! Jangan sekali-kali kau membalasnya. Belum lima menit terlewati, nada dering berbunyi. Iya, ini dia. Dia meneleponmu hei wanita tak tahu diri!
---
Hebat. Aku bisa mempertahankan diriku untuk tidak terdengar lemah. Namun, lihat diriku. Duduk dengan terusan berwarna merah darah dengan pemulas bibir tipis kesukaannya. Maksudnya apa? Ah, gila rasanya aku sedari tadi berbicara dengan diriku sendiri. Gila, gila!
Tak berselang lama, lelaki berambut panjang terurai acak-acakan itu duduk di hadapanku. Masih dalam diam. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia memanggil pramusaji terdekat. Satu porsi steik ikan dan semangkuk sup asparagus tampaknya sudah ia rencanakan sebelum bertemu denganku. Tapi, tunggu. Ada yang berbeda. Tidak ada kaus polos atau jins pudar. Mengapa setelan hitam ini yang jadi pilihannya? Apakah kami akan mengakhiri hubungan ini? Atau dia baru saja mengunjungi sebuah upacara pemakaman. Sontak, aku hanya mengelus tengkukku. Ia kemudian menoleh lembut padaku. Tidak, tepatnya ke arah bibir lebarku lalu mengedipkan matanya perlahan, lalu melihat kedua alis tebalku yang tetap tajam seperti biasa. Hei, aku tidak mencukurnya. Kutahu kau benci itu, kan?
Jujur, aku tak memerhatikan sedikit pun ucapannya dan kuyakin ia mengetahuinya. Ia menaruh sendok dan garpunya dan memajukan posisi duduknya ke arahku. Tunggu, aku belum siap. Jari-jarinya menyusup ke telapak tanganku. Hangat, masih hangat. Satu, dua, tiga, ... ia berpaling dan memanggil kembali pramusaji. Baik, semua sudah dibayarnya dengan kartu metalik yang keluar dari dompetnya. Kartu debit? kredit? Hei, mengapa aku penasaran dengan hal itu. Aku gila. Kepalaku berputar hebat. Ia menarikku untuk berdiri, mengantungi tangan kananku ke kantung kiri di jaketnya, kemudian menuntunku keluar restoran. Tolong katakan sesuatu atau aku akan pingsan!
Sejenak, jalanan memutarkan kedua bola mataku. Lumayan untuk pengalihan. Jalanan ini masih basah oleh sisa hujan yang turun beberapa saat lalu. Percikan kecil di bawah kaki kami pun menegaskan bahwa dinginnya kondisi kami disponsori oleh kekuasaan Tuhan. Beberapa anak kecil di depan kami pun masih tampak asik menikmati tetesan air dari pohon yang mereka tendang. Tanpa sadar, aku tersenyum. Lelaki di sebelahku ikut tersenyum. Aku menatapnya lekat. Begitu pun dirinya. Selama beberapa detik, kami berhenti untuk saling menatap. Aku tidak merasakan raut kekesalan atau penyesalan di balik tatapannya seolah tidak ada yang terjadi di antara kami.
Sebuah taksi berhenti tepat di sebelah kami. Aku baru menyadari bahwa tangan kanannya melambai ke arah yang tak kuketahui. Aku terpesona. Wajahku memerah tetapi ia tetap saja menggenggam erat tanganku di dalam sakunya. Waktu berputar begitu cepat dan yang kuingat hanyalah kami berdua tiba di depan pintu apartemenku.
"Boleh aku ikut masuk?" ucapnya lembut.
"Untuk apa?"
"Melayanimu."
Aku tak ingin berpura-pura bodoh. Usia kami cukuplah dewasa untuk membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Ia menaruh jaketnya sembari melepaskan kedua tali sepatunya. Aku yang berjalan layaknya mayat hidup, hanya dapat bergegas ke kamar mandi, menghapus kosmetik yang melapisi wajahku lalu mengganti piama yang bertengger di balik pintu. Apa yang harus kulakukan? Tak berapa lama, ia memanggilku. Oke, aku siap. Ia tampak menawan dengan dua kancing terbuka dan rambut yang diikat asal-asalan. Lengan kanannya membentang di atas sandaran sofa sedangkan satunya mengarah kepadaku seolah aku akan menerima tawaran untuk duduk di sebelahnya. Impuls sarafku secara otomatis menurutinya. Kusambut dirinya dan kini aku duduk tepat di sebelahnya dengan kedua kaki di atas pahanya. Ia kembali menatapku dalam. Aku dapat merasakan putaran telunjuknya di punggung tanganku. Sebuah kecupan hinggap lembut di keningku dan punggungku semakin dekat dengannya. Tangannya menjalar turun hingga ke kancing kedua piamaku. Jantungku berdegup semakin kencang. Saking kencangnya, hingga tak kusadari aku sudah sepenuhnya berada di pangkuan pria beraroma kayu oak ini. Napas hangatnya kini berembus di telinga kananku dan jari tangannya sudah menyentuh kulit di balik kancingku. Aku siap.
"Maafkan aku. Waktu tak cukup untukmu." ujarnya lembut.
Aku menyunggingkan senyum kecil dan ia kembali membisikkan ucapannya.
"Kau bukan sedotan yang setiap saat dapat kujadikan penyesap kopi di malam hari." Ia mengancingkan piamaku dan memelukku erat sekali. Aku bergeming.
"Biar aku memelukmu seperti ini setiap saat, saat ini, hingga nanti."
Dan sebuah cincin terpasang di jari manisku, dengan hujan yang kembali turun di luar jendela, dengan hangat tubuhnya yang menenangkan.
Comments
Post a Comment