Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong
Sering mendengar kalimat ini? Ataukah hanya saya yang sering mendengarnya?
Malam tadi, sesuatu meresahkan saya. Beberap bulan lalu, saya mampir di salah satu akun instagram yang membahas persoalan sensitif. Jujur saja, saya lupa perihal apa. Yang teringat hanyalah ini tidak jauh-jauh dari isu sensitif seputar agama. Saya, memosisikan diri sebagai pribadi yang mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tiba-tiba, seseorang dengan akun anonim berkomentar, "Pakai dulu hijabnya, baru berkomentar!"
Wow, saya terkejut! Sebagai Aquarian, sikap tidak mau kalah dalam berdebat muncul. Saya bertanya mengapa saya tidak boleh berkomentar seputar agama hanya karena saya tidak berhijab? Namun, itu bukan kali pertama. Pernah suatu waktu, saya mengomentari akun komunitas orang tua di salah satu platform dunia maya. Entah mengapa, salah satu dari member berkomentar yang intinya sama, ibu tunggal kok bicara soal rumah tangga. Lah! Memang tidak boleh?
Ternyata, keresahan saya juga dirasakan beberapa teman, baik di dunia maya maupun di tongkrongan. Jadi, saya berpikir, apakah sebuah ilmu memandang siapa yang membicarakannya? Apakah hanya ahli hukum yang boleh bicara seputar perundang-undangan? Apakah hanya lulusan sastra yang boleh bicara bahasa? Ataukah rumah tangga hanya milik para pasangan suami-istri?
Saya mengerti bahwa setiap orang memiliki ranahnya masing-masing. Bahkan, di tengah penulisan opini ini, seorang kawan menyambut antusias saya dengan, "Masa' kau mau bicara medis padahal kau bukan dokter?"
Bukan, bukan itu sebenarnya. Saya memahami setiap orang pasti mempelajari banyak hal selama hidupnya. Tanpa memandang lulusan mana, dari golongan apa, atau sudah punya pencapaian seperti apa. Saya pribadi berbangga hati dibesarkan di keluarga yang amat mencintai belajar. Lagipula, kembali lagi pertanyaan saya, apakah tidak boleh seorang 'saya' bicara tentang medis. Tentunya, ini tidak berlaku kalau Anda mengada-ada.
Esensi yang saya sampaikan adalah: Seringkali kita terhalang 'kotak-kotak sosial' untuk menebarkan sesuatu. Misalnya saja, saya berkomitmen menyebarkan semangat menulis di antara pertemanan saya. Apakah saya seorang sastrawan? Tentu saja bukan. Namun, komitmen ini berangkat dari satu niat kecil. Menebar kebaikan. Lalu, apakah kebaikan hanya milik orang 'baik' saja?
Masih ingat fenomena Kekeyi Putri dengan video tutorial riasan wajah yang sempat viral dan menimbulkan kontroversial pada awalnya. Kamera dan muka standar kok berani-beraninya membuat konten itu. Apa yang terjadi? Dengan apiknya, Kekeyi bicara bahwa orang jelek, gendut, dan pendek harus percaya diri dan boleh tampil cantik. Satu hal receh yang kemudian banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Seiring berjalannya waktu, beberapa kreator konten mengajarinya, menghadiahi kosmetik beragam, hingga mengajaknya berkolaborasi. Jelas, makeup bukanlah milik orang cantik saja. Catat!
Kembali dengan keresahan utama saya, menyebarkan kebaikan atau sekadar komentar akan sebuah isu, bukanlah milik siapa pun yang ahli, sudah, atau telah mengenyam pelajaran tingkat tinggi. Kalau salah, tentu ruang diskusi terbuka lebar, kok! Dengan begitu, kita sama-sama belajar, sama-sama memahami, dan berakhir dengan berbagi ilmu tanpa memandang kemasan yang ada.
Satu lagi, ingat fenomena seorang selebriti twitter yang viral karena jasa curhat berbayar? Berbagai pro dan kontra bermunculan. Bahkan, seseorang yang tidak memahami secara penuh soal ini berkomentar, "Curhat tuh ke psikolog bukan ke influencer". Tentu, Zarry Hendrik tidak sebodoh itu untuk menanggapi curahan para penggemarnya. Ada ranah yang ia mengerti, ada pula yang akan ia batasi. Kesediaan mereka yang mau membayar jasanya tentu saja dengan alasan. Bagi saya sendiri, saya bersedia membayar untuk seorang teman yang mau mendengarkan masalah saya dengan baik. Walau hanya secangkir kopi dan sepiring gulai 'tikungan'. Karena bagi saya, tak selalu saya berani mengungkapkan kegusaran kepada orang lain sekalipun psikolog. Bukan bermaksud mendeskritkan profesi, tapi lagi-lagi ini perkara pilihan. Tetap ada nilai kebaikan yang diberikan seorang Zarry kepada pengguna jasa curhatnya.
"Karena menebar kebaikan bukanlah milik sang ahli. Namun, terselip tanggung jawab bagi yang ingin memberi."
Sekian dari saya. Silakan memberikan tanggapan maupun kritik pada tulisan saya. Sungguh, siapa pun kalian, saya akan menerima dengan senang hati. Selamat siang!

Comments
Post a Comment