Tahu Bulat
Bulan berakhiran -ber selalu saja dipenuhi rintikan hujan. Tak jarang, disertai angin yang dapat menyapu dedaunan di tengah jalan. Sungguh ini bukanlah hal yang menyenangkan. Entah apa yang dipikirkan para penyuka hujan itu. Mereka bilang kalau hujan itu menenangkan dan menyenangkan. Tidak untukku. Baru saja memoles motor kesayangan, hujan dengan jahilnya berhasil mencipratkan lumpur dalam waktu sekejap. Namun, sudahlah. Tuhan menurunkan rahmat-Nya bagi kami dan alam semesta bukan tanpa alasan.
Aku melintasi jalanan menuju kantor dan kulihat seorang wanita berjalan di trotoar dengan jaket lepek yang membungkusnya. Namun, bukan itu saja yang kuperhatikan meski sesaat. Matanya berlinang dan tangan gemetarnya tampak memeluk kedua lengan atasnya. Haruskah aku menurunkan gasku dan menghampirnya? Aku gusar memikirkannya. Tidak, bukan gusar memikirkannya. Aku teringat diriku yang dulu, menatap wanita tercinta sedang meraba pipi seorang pria yang kukenal sejak SMA. Layaknya pemeran film drama, aku berlari menjauh sembari menggenggam erat cokelat kesukaannya lalu diguyur hujan tanpa ampun. Sama seperti wanita di pinggir jalan itu. Hanya saja, tanpa tangis. Lamunanku kemudian terhenti. Tak seharusnya aku masih mengingat luka itu. Tanpa pikir panjang, kupacu motorku sekencang yang aku bisa dan... tibalah aku di tempatku bekerja.
Hari ini berjalan dengan semestinya. Meski dinginnya AC cukup mengganggu, setidaknya pekerjaanku berhasil dengan sempurna. Sesekali aku melipir ke halaman belakang untuk sekadar membakar rokok. Aku masih memikirkan wanita itu. Lukanya amat dalam, pikirku. Tunggu! Bukankah ia pernah bertemu denganku? Ataukah aku pernah melihat wanita itu sebelumnya? Di mana, ya?
Tiba-tiba, ruangan kantorku ramai. Aku hanya terdiam meski sesekali mengintip lewat jendela belakang. Ternyata berita kecelakaan. Sebuah motor menabrak pejalan kaki hingga dirinya mengalami patah tulang. Seketika aku memikirkan kembali wanita yang tadi. Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana jika itu menimpanya yang sedang gamang dan berjalan tanpa tahu arah? Semoga dirinya tetap dilindungi Sang Mahakuasa.
***
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kutatap ruang kerjaku lengang. Karyawan lainnya sudah pulang sekitar dua jam lalu. Kegelisahan menyayat halus tengkukku. Sudah satu tahun lamanya aku tidak merasakan sensasi bercinta. Aku menatap nanar foto yang masih terselip di laci mejaku. Wanita yang teramat kucintai dengan pria yang kini ia cintai hidup bersama. Kuarahkan kursor ke salah satu situs web dewasa andalan banyak orang. Tentunya, aku harus mengatur setelan tertentu untuk mengaksesnya. Aku memejamkan mataku lalu menggelengkan kepala. Tidak, tahan, pulang. Kumatikan komputer dan bergegas membereskan isi ransel. Tak berselang lama, aku mengunci pintu kantor dan menyalakan motorku.
Jalanan amat lengang. Tidak ada lagi hujan deras yang mengguyur. Hanya beberapa rintik kecil yang kuyakin tidak akan membuat jaket tebalku basah. Kususuri jalan sambil menikmati malam. Sungguh nikmat rasanya jika aku pulang bersama seorang wanita yang mau memelukku dari belakang. Dengan pacuan gas motor yang tak terlalu tinggi tetapi cukup cepat untuk mengibaskan rambut panjangnya. Bayangan anak muda klasik yang dibayangkan pria tiga puluh-an penyuka lagu klasik. Aku tertawa dalam hati.
Sejenak aku berhenti di salah satu warung kecil untuk membeli rokok. Tiba-tiba, pria di sebelahku bersiul. Seorang wanita cantik yang kukenal melintas di seberang jalan. Ia tampak berjalan terburu-buru. Beberapa puluh meter di belakangnya, seorang pria berlari mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya.
"Lin, tunggu! Maaf, Lin! Hei, tunggu!" teriak pria tersebut.
Lin namanya. Wanita yang tadi pagi kulihat. Dan benar saja, ia masih mengenakan pakaian yang sama. Entah apa yang menimpa wanita semanis dirinya hingga pakaian itu tetap menempel pada badannya seharian. Atau mungkin dua hari? Aku ingin menghampirinya lalu menyuruh pria tersebut untuk pergi. Namun, siapalah aku. Wanita tersebut berjalan di arah yang sama sepertiku pulang tetapi tidak etis rasanya aku mencampuri urusan orang lain. Maka, dengan kegelisahan yang menjalar di benakku, aku kembali memutarkan gas dan melewatinya. Melewatinya dengan pria yang masih mengejarnya. Kutenangkan pikiranku dan beberapa luka kembali menganga dan terlintas di pikiranku. Andai kekasihku tak pergi meninggalkanku seperti waktu itu. Andai pria pujaannya tidak pernah hadir di antara kami. Andai aku saat itu memiliki banyak hal yang ia punya, mungkin wanita yang kusunting lima tahun lalu takkan membohongiku seburuk itu.
Aku memarkirkan motor di garasi rumahku dan aku teringat wanita yang kutemui dua kali di hari ini. Dia yang sempat menolongku dengan membiarkan taksinya untukku. Wanita manis dengan rambut bergelombang dengan lipstik merah menyala dan bulu mata lentik. Dia yang baru saja kembali menangis atas sesuatu yang melukainya. Luka yang mungkin sama sepertiku. Kulangkahkan kaki menuju kamar, membayangkan dirinya, mantan kekasihku, dan cerita lama tentang kami berdua. Mataku memejam dan hanya tersisa bayangan wanita itu di akhirnya.
***
Bukanlah kali pertama aku kencan dengan seorang wanita. Apalagi, kecanggungan-kecanggungan yang pasti terjadi selama itu berlangsung. Namun, berbeda dengannya. Ia tampak tidak antusias dengan hari ini. Menurutku, aku sudah berpenampilan sebaik yang kubisa. Apakah terlalu aneh atau aku hanya terlalu biasa baginya? Pramusaji menghampiri dan membuyarkan pertanyaanku. Andai ia mau berlama-lama di tengah kami berdua agar kecanggungan ini berakhir. Namun, ia berlalu sekejap setelah kami memesan makanan.
Pupil matanya berwarna cokelat. Indah. Bibirnya terpulas lipstik merah menyala dengan rambut ikal terikat kencang ke belakang. Tidak ada kesedihan di raut wajahnya. Hanya saja, ia tiba-tiba mengangkat alis seolah memintaku untuk memulai perbincangan. Bukannya membalas, aku justru menyisir rambut panjangku agar tidak terlihat aneh. Tidak aneh? What the...?
Kencan atau... makan malam kami berubah sejak ia menanyakan beberapa hal kecil padaku. Aku yang ditakdirkan menjadi seorang pembicara tak handal hanya membalas seperlunya. Saat hidangan disajikan, kami pun menyantapnya dalam diam. Namun, sesekali matanya mengarah kepadaku. Tenang, Ji, tenang...! Sungguh lucu rasanya. Ternyata, bukan saja aku yang aneh. Wanita ini tampaknya gelisah akan sesuatu. Ia menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja sesaat setelah makanannya habis. Terkadang ia menunduk atau hanya sekadar menoleh dengan senyuman lebar di wajahnya. Hampir saja aku tersedak minuman dan yang bisa kukatakan hanyalah, "Kamu kenapa?"
Ada sekelumit hal yang tergambar dari bola matanya. Sesuatu yang dalam, ia yang tak ingin diketahui tetapi penuh tanya. Tatapan polosnya mengingatkanku pada sesuatu. Rasa yang lama hilang dengan harapan kecil sederhana. Ia hanya ingin tersenyum lepas dan itu membuatku gila. Tuhan, wanita inikah? Apakah dirinya yang tepat untuk menjawab diam-Mu?
Kuletakkan beberapa lembar uang di atas meja dan kuraih tangan kecilnya tanpa berpikir panjang. Dia bukanlah obat dari lukaku. Akulah obat baginya. Bukan, bukan. Akulah yang membutuhkannya. Mulutku berbicara tanpa henti dalam dua kalimat di telinganya. Adrenalinku memuncak. Biar kutelanjangi hatimu dan kukenakan pakaian terindah bagi hidupmu. Aku ingin memiliki luka dan dirimu.
Tubuhku cukup kuat untuk kami berdua. Asal dia mau berkata 'iya'.
---
Sebagai tantangan ketiga untuk Katahati Challenge. Lagu Anji-Dia mengubah kisah cintaku dan cerita ini.
Cerita ini adalah sisi lain dari blog sebelumya yaitu "Panci Gosong". Silakan membaca. :)

Comments
Post a Comment