Telur Setengah Matang


Tepat di Kamis malam ini, aku merebahkan seluruh harap di atas sajadah. Menutup seluruh auratku dengan mukena putih satin pemberiannya. Hening mengalun dan sebulir-dua bulir air keran di wajahku ikut bersaksi bahwa tiada nikmat lagi yang dapat kudustakan selain seluruh berkat dan rahmat yang telah diberikan oleh sang pemilik semesta. Tepat satu saf di depanku, pria dengan helaian panjang menjutai di punggung mengucapkan kalimat takbir sembari mengangkat tangannya yang kokoh nan lembut. Terang malam kami turut menyuguhkan tontonan baru di hidupku. Untaian surat-surat pendek yang terdengar semakin meyakinkanku, aminku terjawab. Sebuah kamar dengan jendela kaca besar di hadapan serta aroma bunga terasa hangat memelukku. Tiada harum yang tak bermakna pada kejadian pagi tadi. Sebuah akad telah terlaksana.

MELATI - melat saka njero ati. Kami bersujud dalam ketulusan, dari hati terdalam. Kami saling mencintai karenaMu, Tuhan.

KANTIL - kanthi laku tansah kumanthil. Dengan doa dan usaha, kami hidup dalam kesendirian dan menyatu seiring besarnya pengabdian. Kami syukurkan nikmat ini sembari menaburkan kasih sayang demi semesta. Rakaat kedua membangkitkan kami kembali.

KENANGA - kenang-en ing angga. Kami sedekapkan lengan sesuai tuntunan Rasulullah dan para leluhur yang selalu berjuang di jalan terbaik milik Allah Yang Mahakuasa. Mengenang tak selalu kenangan. Ilmu dan kebijaksanaan akan diteruskan baginya, imamku, dan diriku sebagai makmumnya.

MAWAR - mawi arsa, awar-awar ben tawar. Dengan ditolehkannya wajah kami pada setiap kebaikan dan keburukan di dunia, sebuah kunci dari pintu rezeki kini terbuka lagi. Kami tengadahkan aneka rasa di akal pikiran, jantung, dan kesadaran demi memulai bahtera yang selama ini kami tunggu.

Keempatnya tertata rapi di meja samping tempat tidur berbalutkan kain putih. Semerbak harum menutup malam setelah seharian kami berdiri menyambut tamu yang datang silih berganti. Suamiku kini duduk menyambutku dengan senyum. Satu rona wajah yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku hanya berdiri terpaku menatap dirinya yang kembali melepas ikatan rambut dan menyisakan sedikit kekusutan di ujungnya. Aku menghampirinya dengan kikuk. Lalu apa? Aku hanya menangkupkan tangan di wajah. Malunya aku. Ia rapatkan lututnya dan menepuk pelan seraya menarik tanganku lembut. Aku duduk perlahan di sebelahnya. Takzim. Ia begitu tenang hingga aku tak sanggup untuk menatapnya lama.

Sebegitu kikuknya diriku, hingga aku tidak ada bedanya dengan boneka plastik yang dijajakan para penjual mainan. Ia membalikkan tubuhku dan mengalungkan kedua lengan panjangnya di depan dadaku. Napasku memburu dan sensasi hangat di belakangku tak cukup untuk menenangkan seorang istri baru sepertiku. Satu per satu kancing dibuka dan seketika pakaianku dilucuti. Refleks tak terduga, aku menyibakkan rambut tebalku ke salah satu leher dan membiarkan embusan napasnya terasa hingga ke bulu-bulu tipis di tengkukku.

Ia arahkan tangannya ke bahu lalu menekan lembut kulitku dibantu oleh jari-jari lentiknya. Aku bergeming. Kutarik napas panjang dan tak terasa sentuhan tadi menjalar ke punggungku, terus hingga ke bawah. Hormon di dalam badanku mengalir deras. Rasa lelah seharian di pelaminan pun hilang seketika. Tepat! Titik-titik sarafku tersentil kecil. Tampaknya, ia puas dengan 'pelayanannya'. Jari-jarinya kini bermain perlahan masuk di tengah otot kencangku. Naik-turun dengan tekanan yang menjadi kunci kenikmatan. Tanganku mencengkeram kedua lekukan lututnya. Saking malunya, aku hanya menggigit bibir untuk menghindari lengkingan atau erangan aneh karena rasa sakit yang berpadu dengan nikmat. Kata orang, berminyak dan basah lebih sedap tetapi dari ekspresinya, aku bisa melihat bahwa ia juga menikmati itu.

Tiba-tiba sebuah nada dering menghentikan kami. Aku mengembuskan napas kecil dan ia menghentikan gerakan jarinya. Setelah menyeka kedua tangan dengan sarungnya, ia mengangkat telepon tersebut. Aku hanya tertawa geli.

"Aku sedang memijat istriku, Bu."

Dasar pria kesayangan ibu. Aku mencintaimu.

Comments

Popular posts from this blog

Negara Perempuan

Asupan Pekerja Kreatif Pemula