Guru Akan Hadir Ketika Murid Siap
"Ketika luka disimpan terlalu lama, kita takkan menjadi kita. Bahkan, kata menjadi kumpulan aksara tanpa makna."
Coba hitung berapa banyak wajah bahagia yang ada pada foto di atas? Entah, dari sekian banyak foto yang tersimpan dalam galeri ponsel di tahun 2018 lalu, foto inilah yang berhasil membalikkan titik terlemahku sekaligus menutup tahun dengan kejutan besar.
Masih terekam jelas apa resolusiku di penghujung tahun 2017. Belajar. Meneruskan kuliah atau sekadar mempelajari hal baru yang mungkin belum aku ketahui. Dan... inilah yang Tuhan jawab. Pertemuan dengan orang tak terduga, tempat penuh makna, hingga pencarian jati diri akan seorang 'Karina'. Ibarat seorang balita yang digandeng ibunya ke sebuah taman kanak-kanak, ia bingung dan terkesima memandang warna-warni dinding sekolah, hingga akhirnya ia menjelma menjadi seorang sarjana dengan predikat kehormatan.
Taman Kanak-Kanak
Bukanlah hal mudah bagiku untuk melepas anak semata wayang di Jogja, bukan pula menjadi sebuah harap yang dulu kutulis dalam agenda. Tidak ada 'kunjungan orang tua' yang akan aku hadiri, tidak ada rapat orang tua yang setiap minggunya akan kuikuti, atau kecupan selamat belajar untuknya di pagi hari. Semua terjadi dan kuputuskan secara spontan, tanpa tujuan, layaknya balita yang dipinta ibunya untuk masuk ke gerbang warna-warni sekolah pertama yang akan mengubah hidup anak tersebut.
Tanyaku saat itu hanya satu, "Mengapa aku, Yaa Rabb?"
Sekolah Dasar
Aku bukanlah penyair bahkan pembawa puisi yang baik. Hanya saja, suatu malam puisi membuatku berjumpa pada seorang Bentara Bumi. Istimewa? Tidak. Karena kami hanya bertegur sapa dan melempar senyum. Satu yang teringat, puisi tentang Gemini. Namun, bukan, bukan itu yang menjadikan perjumpaan kami lebih dari sekadar istimewa. Aku yang bukan siapa-siapa, diajak olehnya ke suatu tempat. Tempat aku belajar menjadi murid sekolah dasar kehidupan.
Rumah Remedi. Rumah dengan orang-orang ramah dan aroma yang khas. Bermula dengan meditasi pelepas stres, aku bertemu sisi lain dari diriku yang lama bersembunyi. Dengan tarikan napas berulang, tangisku semakin pecah. Satu luka lama menganga. Kehilangan ayah tanpa sempat meminta maaf. Rasa bersalah yang tak henti-hentinya kutekan demi sebuah kata, yakni 'bahagia'.
"Meskipun aku merasa perih, aku ikhlas apa adanya. Let it go... let it go..."
Kalimat ini tak putus kuucapkan. Dengan embusan napas panjang, lukaku terkikis sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, selama satu jam, aku menampar keras diriku. Bahagia bukan seperti itu. Bukan menyalahkan diri setiap saat dan berakhir dengan kalimat 'aku tidak apa-apa'. Lukaku takkan bisa pulih tapi karenanya aku tak lagi memerih.
Sekolah Menengah Pertama
Pubertas membawaku ke dalam sebuah jurang yang bernama cinta. Begitu pun yang terjadi di tahun lalu. Bagaimana selama ini aku hanya menyadari bahwa untuk merasa dicintai, kau memerlukan orang lain di dalamnya. Itu yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Hasilnya, diselingkuhi, disakiti, dijadikan terminal sementara untuk lelaki yang katanya cinta mati. Ada yang terlupa, ternyata. Diri ini adalah cukup menjadi orang yang dapat dicintai sekaligus mencintai. Sudah terlalu lama aku lupa untuk melayani sang batin. Badanku tak lagi terlalu penting. Bahkan, mahkotaku terasa begitu biasa untuk diapresiasikan. Lewat meditasi, aku belajar mencintai diriku apa adanya. Menerima bahwa menjadi seorang ibu tunggal dengan perut berlipat dan pinggul melebar adalah sebuah anugerah. Nyatanya, ada seseorang yang menerimaku apa adanya. Diriku sendiri.
Dan di masa ini pula, aku diberi kesempatan menjadi pelatih silat neuro bagi anak-anak luar biasa. Di fase ini pula, aku mengenal bahwa setiap gerak yang kubuat dan kuajarkan, mengandung makna luar biasa yang dapat memengaruhi kehidupan mereka. Melalui gerakan mereka, aku belajar untuk menghargai setiap organ yang membuatku hidup. Lewat kejenakaan mereka, aku kembali berkaca, diriku seberuntung mereka. Diberi bekal kehidupan dan ketidaksempurnaan yang membuat kami hidup seutuhnya, seluruhnya, saat ini, dengan sehat sentosa.
Sekolah Menengah Atas
Berbeda dengan lebaran sebelumnya, tahun ini terasa lebih berat. Tiada keluarga yang menemani sahur maupun tarawih bersama ke masjid. Aku selalu berkata bahwa aku baik-baik saja. Nyatanya, tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku menahan rindu menahun dalam tidur. Aku harus pulang saat lebaran, pikirku. Berusaha menghadapi kenyataan bahwa sebuah temu berarti sembuh dari rasa rindu yang akan berlanjut setelahnya. Kubawa Kirana, anakku, pulang ke Jakarta agar kami bisa saling mengobati rindu. Nyatanya Tuhan berkata lain. Infeksi radang usus membuat diriku rapuh. Tak ada taman hiburan yang dikunjungi atau mengajaknya pergi untuk sekadar menonton film di bioskop. Bangun dari tempat tidur saja sulit. Anakku hanya sesekali menawarkan diri untuk mengobati ibunya yang terkapar. Rindu tak terobati, lukanya bertambah lagi. Bukan ini yang kuharapkan, Nak.
Sejenak aku terdiam. Aku mengingat apa yang diajarkan setiap kali kami bermeditasi di Rumah Remedi. Bahwa pada umumnya, manusia melakukan tiga hal untuk menghadapi stres. Tiga 'R' sebutannya, yakni reactive, redirecting, dan repressed. Kita seringkali reaktif terhadap masalah seperti amarah ketika rasa cemburu membabi buta, atau mengalihkan (redirecting) rasa stres dengan olahraga, menulis, atau belanja ke mal, bahkan menekan serta menahan (repressed) perasaan tidak nyaman demi menjadi 'baik-baik saja'. Mbu, kau terlalu banyak menahan, gumamku. Rinduku takkan sembuh hanya dengan bertemu. Nyatanya, ketidakrelaanku jauh dari Kirana membuat rindu ini kian menumpuk, belum lagi sugesti palsu untuk mengatakan semuanya baik-baik saja, justru memperburuk keadaan.
Anakku kembali pulang ke Jogja dengan ingatan membekas akan diriku yang terkapar. Namun, apa daya, semua sudah terjadi. Yang dapat kulakukan adalah kembali selaras dengan diriku. Aku melakukan tiga hal demi berdamai dengan rasa rindu ini. Reframing, releasing, dan relaxing. Kumencoba memahami arti dari ujian di tengah rasa ngilu di perut kananku dan mengambil hikmah bahwa terpisah bukan berarti kami tidak saling memiliki. Saat SMA, aku pernah sendiri dan bukan berarti orang tuaku tidak hadir bersamaku. Mereka bersamaku. Sama seperti saat ini. Anakku di sana bahagia, aku pun harus bahagia. Aku mencoba untuk memahami bahwa jarak jauh hanyalah dimensi yang terbentuk di dalam pikiran hingga pada akhirnya akulah yang mampu membuatnya lebih dekat. Aku pun kembali bermeditasi. Melepaskan rasa tidak nyaman yang menghambat rasa rinduku untuknya. Rasa rindu yang sebenar-benarnya. Kemudian, aku memberikan hadiah berharga bagi tubuhku. Istirahat. Maka, tiga 'R' keduaku mengembalikanku seutuhnya.
--
Sungguh, mengenang tahun lalu adalah sesuatu yang aneh, absurd, bahkan terlalu ajaib. Semua terpampang jelas seperti aku yang dulu mengenyam pendidikan. Menghadapi bahwa setiap kelasnya tak lepas dari ujian atau sekadar evaluasi dan nasihat guru. Iya. Hanya saja, gelar sarjana belum terselip di belakang namaku. Namun, kenyataaan berbicara. Aku bekerja di perusahaan yang diisi oleh para sarjana. Aku mampu menghadapi tenggat waktu kerja yang amat padat. Tanpa gelar sarjana tetapi bersanding bersama mereka yang memegang toga.
Begitu pun hidupku. Yang masih biasa di antara para manusia dan berusaha untuk menghargai apa yang Ia berikan. Bukan demi orang lain tapi demi diriku dan alam semesta. Membawa kebaikan, kebenaran, keindahan, kesejahteraan, kebijaksanaan, kesentosaan, kasih sayang, dan hikmah berlimpah. Karena guru akan hadir ketika seorang murid telah siap. Ia hadir membawa pesan, "Hidupmu berharga, hidupmu luar biasa. All is well"
Sampai jumpa, 2018.
Masih terekam jelas apa resolusiku di penghujung tahun 2017. Belajar. Meneruskan kuliah atau sekadar mempelajari hal baru yang mungkin belum aku ketahui. Dan... inilah yang Tuhan jawab. Pertemuan dengan orang tak terduga, tempat penuh makna, hingga pencarian jati diri akan seorang 'Karina'. Ibarat seorang balita yang digandeng ibunya ke sebuah taman kanak-kanak, ia bingung dan terkesima memandang warna-warni dinding sekolah, hingga akhirnya ia menjelma menjadi seorang sarjana dengan predikat kehormatan.
Taman Kanak-Kanak
Bukanlah hal mudah bagiku untuk melepas anak semata wayang di Jogja, bukan pula menjadi sebuah harap yang dulu kutulis dalam agenda. Tidak ada 'kunjungan orang tua' yang akan aku hadiri, tidak ada rapat orang tua yang setiap minggunya akan kuikuti, atau kecupan selamat belajar untuknya di pagi hari. Semua terjadi dan kuputuskan secara spontan, tanpa tujuan, layaknya balita yang dipinta ibunya untuk masuk ke gerbang warna-warni sekolah pertama yang akan mengubah hidup anak tersebut.
Tanyaku saat itu hanya satu, "Mengapa aku, Yaa Rabb?"
Sekolah Dasar
Aku bukanlah penyair bahkan pembawa puisi yang baik. Hanya saja, suatu malam puisi membuatku berjumpa pada seorang Bentara Bumi. Istimewa? Tidak. Karena kami hanya bertegur sapa dan melempar senyum. Satu yang teringat, puisi tentang Gemini. Namun, bukan, bukan itu yang menjadikan perjumpaan kami lebih dari sekadar istimewa. Aku yang bukan siapa-siapa, diajak olehnya ke suatu tempat. Tempat aku belajar menjadi murid sekolah dasar kehidupan.
Rumah Remedi. Rumah dengan orang-orang ramah dan aroma yang khas. Bermula dengan meditasi pelepas stres, aku bertemu sisi lain dari diriku yang lama bersembunyi. Dengan tarikan napas berulang, tangisku semakin pecah. Satu luka lama menganga. Kehilangan ayah tanpa sempat meminta maaf. Rasa bersalah yang tak henti-hentinya kutekan demi sebuah kata, yakni 'bahagia'.
"Meskipun aku merasa perih, aku ikhlas apa adanya. Let it go... let it go..."
Kalimat ini tak putus kuucapkan. Dengan embusan napas panjang, lukaku terkikis sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, selama satu jam, aku menampar keras diriku. Bahagia bukan seperti itu. Bukan menyalahkan diri setiap saat dan berakhir dengan kalimat 'aku tidak apa-apa'. Lukaku takkan bisa pulih tapi karenanya aku tak lagi memerih.
Sekolah Menengah Pertama
Pubertas membawaku ke dalam sebuah jurang yang bernama cinta. Begitu pun yang terjadi di tahun lalu. Bagaimana selama ini aku hanya menyadari bahwa untuk merasa dicintai, kau memerlukan orang lain di dalamnya. Itu yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Hasilnya, diselingkuhi, disakiti, dijadikan terminal sementara untuk lelaki yang katanya cinta mati. Ada yang terlupa, ternyata. Diri ini adalah cukup menjadi orang yang dapat dicintai sekaligus mencintai. Sudah terlalu lama aku lupa untuk melayani sang batin. Badanku tak lagi terlalu penting. Bahkan, mahkotaku terasa begitu biasa untuk diapresiasikan. Lewat meditasi, aku belajar mencintai diriku apa adanya. Menerima bahwa menjadi seorang ibu tunggal dengan perut berlipat dan pinggul melebar adalah sebuah anugerah. Nyatanya, ada seseorang yang menerimaku apa adanya. Diriku sendiri.
Dan di masa ini pula, aku diberi kesempatan menjadi pelatih silat neuro bagi anak-anak luar biasa. Di fase ini pula, aku mengenal bahwa setiap gerak yang kubuat dan kuajarkan, mengandung makna luar biasa yang dapat memengaruhi kehidupan mereka. Melalui gerakan mereka, aku belajar untuk menghargai setiap organ yang membuatku hidup. Lewat kejenakaan mereka, aku kembali berkaca, diriku seberuntung mereka. Diberi bekal kehidupan dan ketidaksempurnaan yang membuat kami hidup seutuhnya, seluruhnya, saat ini, dengan sehat sentosa.
Sekolah Menengah Atas
Berbeda dengan lebaran sebelumnya, tahun ini terasa lebih berat. Tiada keluarga yang menemani sahur maupun tarawih bersama ke masjid. Aku selalu berkata bahwa aku baik-baik saja. Nyatanya, tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku menahan rindu menahun dalam tidur. Aku harus pulang saat lebaran, pikirku. Berusaha menghadapi kenyataan bahwa sebuah temu berarti sembuh dari rasa rindu yang akan berlanjut setelahnya. Kubawa Kirana, anakku, pulang ke Jakarta agar kami bisa saling mengobati rindu. Nyatanya Tuhan berkata lain. Infeksi radang usus membuat diriku rapuh. Tak ada taman hiburan yang dikunjungi atau mengajaknya pergi untuk sekadar menonton film di bioskop. Bangun dari tempat tidur saja sulit. Anakku hanya sesekali menawarkan diri untuk mengobati ibunya yang terkapar. Rindu tak terobati, lukanya bertambah lagi. Bukan ini yang kuharapkan, Nak.
Sejenak aku terdiam. Aku mengingat apa yang diajarkan setiap kali kami bermeditasi di Rumah Remedi. Bahwa pada umumnya, manusia melakukan tiga hal untuk menghadapi stres. Tiga 'R' sebutannya, yakni reactive, redirecting, dan repressed. Kita seringkali reaktif terhadap masalah seperti amarah ketika rasa cemburu membabi buta, atau mengalihkan (redirecting) rasa stres dengan olahraga, menulis, atau belanja ke mal, bahkan menekan serta menahan (repressed) perasaan tidak nyaman demi menjadi 'baik-baik saja'. Mbu, kau terlalu banyak menahan, gumamku. Rinduku takkan sembuh hanya dengan bertemu. Nyatanya, ketidakrelaanku jauh dari Kirana membuat rindu ini kian menumpuk, belum lagi sugesti palsu untuk mengatakan semuanya baik-baik saja, justru memperburuk keadaan.
Anakku kembali pulang ke Jogja dengan ingatan membekas akan diriku yang terkapar. Namun, apa daya, semua sudah terjadi. Yang dapat kulakukan adalah kembali selaras dengan diriku. Aku melakukan tiga hal demi berdamai dengan rasa rindu ini. Reframing, releasing, dan relaxing. Kumencoba memahami arti dari ujian di tengah rasa ngilu di perut kananku dan mengambil hikmah bahwa terpisah bukan berarti kami tidak saling memiliki. Saat SMA, aku pernah sendiri dan bukan berarti orang tuaku tidak hadir bersamaku. Mereka bersamaku. Sama seperti saat ini. Anakku di sana bahagia, aku pun harus bahagia. Aku mencoba untuk memahami bahwa jarak jauh hanyalah dimensi yang terbentuk di dalam pikiran hingga pada akhirnya akulah yang mampu membuatnya lebih dekat. Aku pun kembali bermeditasi. Melepaskan rasa tidak nyaman yang menghambat rasa rinduku untuknya. Rasa rindu yang sebenar-benarnya. Kemudian, aku memberikan hadiah berharga bagi tubuhku. Istirahat. Maka, tiga 'R' keduaku mengembalikanku seutuhnya.
--
Sungguh, mengenang tahun lalu adalah sesuatu yang aneh, absurd, bahkan terlalu ajaib. Semua terpampang jelas seperti aku yang dulu mengenyam pendidikan. Menghadapi bahwa setiap kelasnya tak lepas dari ujian atau sekadar evaluasi dan nasihat guru. Iya. Hanya saja, gelar sarjana belum terselip di belakang namaku. Namun, kenyataaan berbicara. Aku bekerja di perusahaan yang diisi oleh para sarjana. Aku mampu menghadapi tenggat waktu kerja yang amat padat. Tanpa gelar sarjana tetapi bersanding bersama mereka yang memegang toga.
Begitu pun hidupku. Yang masih biasa di antara para manusia dan berusaha untuk menghargai apa yang Ia berikan. Bukan demi orang lain tapi demi diriku dan alam semesta. Membawa kebaikan, kebenaran, keindahan, kesejahteraan, kebijaksanaan, kesentosaan, kasih sayang, dan hikmah berlimpah. Karena guru akan hadir ketika seorang murid telah siap. Ia hadir membawa pesan, "Hidupmu berharga, hidupmu luar biasa. All is well"
Sampai jumpa, 2018.

Comments
Post a Comment