Aku Tak Rindu Kampung Halaman
"Lur, sampeyan ndak pulang?"
"Ndak, Mbakyu. Lemburanku sedikit bulan ini. Tampaknya, bulan depan aku baru bisa mengunjungi ibuk dan bapak. Njenengan sendiri ndak berniat menjemput anak, tho?"
"Gajiku sudah habis untuk keperluan uang pangkal sekolah anakku," jawabku sambil membakar sebatang rokok filter yang sedari tadi tersimpan di balik saku celana.
Sore itu, aku dan Sigit tengah asik menikmati cahaya matahari kemerahan yang menyapu hampir separuh pandangan kami ke langit. Jakarta tampak lengang hari itu. Lebaran tampaknya tak cukup menjadi prioriatas bagi perantau seperti kami. Aku hanya menatap obrolan dari layar ponsel sembari sesekali memerhatikan dirinya yang tengah mengupas apel pemberian tetangga. Tak lama, ia membagikan sepotong besar untukku. Belum habis potongan apelku, serombongan remaja dengan satu ondel-ondel melewati kami. Berpakaian seperti pengamen pada umumnya, salah seorang dari mereka menghampiri kami dengan satu ember bekas cat untuk meminta uang. Untungnya, selembar dua ribu rupiah masih kukantungi. Kuberikan kepadanya, dan mereka pergi ke rumah-rumah lainnya.
"Aku baru tahu kalau ondel-ondel itu seharusnya berjalan berpasangan," celetuk Sigit.
"Dan sebenarnya berada di tiap-tiap perayaan, sih." Aku mengisap kencang rokokku. Ada kegusaran di balik kata-kataku. Mengapa mereka menjadikan ondel-ondel sebagai objek yang melunturkan nilai-nilai leluhur mereka sendiri?
"Kata teman sekantorku, dulu ondel-ondel difungsikan sebagai penolak bala, Mbak. Pantas saja wajahnya seram," balasnya.
"Bagaimana pun mereka ini yang merusak budaya khas Jakarta!" tukasku ketus.
"Lah, tapi mau gimana lagi, Mbakyu. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang mengingatkan warga aslinya, terutama kita perantau, tentang sepasang suami istri berambut kawat berwarna-warni itu?"
"Memang mereka suami istri?" tanyaku penasaran.
"Mbuh. Ra ngerti aku, Mbak."
Pernyataan Sigit barusan memang ada benarnya. Jarang sekali aku melihat ondel-ondel selain sebagai pajangan di beberapa acara besar. Tanpa Tanjidor atau Bende atau pemimpin rombongan yang menari lincah bersamanya. Ondel-ondel kan sepasang, bukan satu saja. Kalau begitu, ondel namanya, bukan ondel-ondel. Ah, sudahlah. Aku juga bukan warga asli di sini. Mana ngerti!
"Kau tahu, ibukku berulang kali keberatan denganku yang memutuskan kerja di Jakarta. Menurutnya, Jakarta penuh hingar bingar, tidak seperti pada zamannya," aku tiba-tiba melontarkan pernyataan tersebut.
"Ah, ibukmu mungkin kurang jauh mainnya, Mbak. Bukankah sedari dulu, Jakarta itu ramai, ya?"
"Iya, sih. Pak Darmono, guru sejarahku, pernah berkata bahwa Jakarta sangat ramai. Terutama ketika Weltevreden menjadi ikonnya," jawabku lagi.
"Lho, apa itu?" tanyanya penasaran.
"Kalau ndak salah sih itu adalah kota yang membentang di seluruh Jakarta Pusat. Wong Londo alias bangsa Eropa menikmati berbagai pesta, festival, bahkan perdagangan yang besar." Setidaknya, itu yang kuketahui tentang daerah tempat tinggalku ini.
Sejenak, Sigit mengernyitkan dahinya. Mungkin itu adalah hal baru yang ia ketahui. Namun, bukankah memang dulu Batavia sudah terkenal sebagai pusat perhatian seluruh penjajah? Entahlah.
"Berarti sebenarnya ndak masalah juga ya kalau Jakarta dicap sebagai kota metropolis. Hanya saja, bagi sebagian orang, kesannya buruk, gitu!" Sigit mengambil kesimpulannya sendiri.
"Ya, sudah menjadi rahasia umum, Lur. Namun yang selama ini dikenalkan ke kita kan hanya perkara UMR yang besar, kemacetan, dan tentunya gedung-gedung tua di beberapa sisi Jakarta, terutama Kota Tua"
Aku tidak bisa mengelak bahwa kota ini menyimpan ribuan cerita sejarah dan rahasia. Masih teringat jelas ketika aku pergi ke museum Bahari. Ada sebuah kalimat petikan yang terus terngiang-ngiang di telinga.
"Kita tanpa bangunan tua ibarat manusia tanpa ingatan"
Namun, lihatlah. Kuyakin tak seberapa banyak masyarakat setempat yang memerhatikan bangunan-bangunan tua itu semakin terlupa. Yang ada hanyalah mereka sekadar dijadikan sebagai objek swafoto atau untuk memenuhi kepamoran di media sosial.
"Ngomong-ngomong soal Jakarta, hampir setiap hari aku nemu sedulur-sedulur Jawa yang seperti kita. Mencari keberuntungan dengan usaha, lalu membangun karir, kemudian beli tanah di kampung untuk hari tua. Apakah ini bisa dibilang bahwa Jakarta adalah kotanya anak muda?" tanya Sigit tiba-tiba.
"Ndak juga, Lur. Aku sendiri justru ingin membeli rumah di sini. Misal di perumahan yang isinya hanya beberapa unit saja. Itu kan sudah awam di sini. Ndak perlu di tengah kota, di pinggiran seperti Cinere, Bekasi, atau Tangerang juga cukup," balasku sambil membakar sebatang rokok lagi.
"Apa banyak yang sepertimu, Mbak?" tanyanya lagi santai sambil mengambil sebatang rokok milikku tanpa izin. Bagi perokok seperti kami, kebiasaan ini sudah lazim dilakukan. Asal tidak ada curanrek alias pencurian korek. Kebangetan judulnya.
"Banyak, Lur. Temanku anak asli Batak. Ia enggan pulang atau berencana membeli rumah di sana. Baginya, di sini lahan basah. Alhasil, usaha angkotnya berjalan lancar. Tinggal kirim uang ke orang tua, beres. Malah, ia berniat melebarkan usaha ke bidang otomotif. Mereka ahli, katanya." Aku memonyongkan bibir setelah berkata itu.
Sigit hanya tertawa lalu tersenyum sambil menatap langit yang kini semakin redup. Aku hanya berpikir bahwa keputusanku menetap di sini adalah benar. Jakarta masih menyisakan banyak tanya. Apalagi, penulis sepertiku membutuhkan banyak cerita dan kompleksitas Jakarta menjawab rasa lapar di otakku. Toh, masyarakat di sini membuatku nyaman. Selain dengan kebiasaan pasar malam dan layar tancap, sewa metromini untuk hajatan, atau nasi uduk jengkol kentalnya, warga Betawi berhasil menyatukan kami para perantau. Lewat indekos atau sekadar guyonan tak terduga yang mungkin terdengar kasar bagi sebagian orang terutama kami yang asli Jawa, hingga ketaatan mereka terhadap Sang Pencipta yang selalu terselip di berbagai keseniannya.
Aku cinta daerah ini. Kelak, anakku harus melihatnya. Meski fanatisme dan politik sedang ramai diperbincangkan, Jakarta bisa menjadi tempat menyenangkan untuk dikenal. Buk, aku tak rindu kampung halaman. Ia memiliki sisi sendiri yang akan selalu melekat. Namun, Jakarta menjadi persinggahan yang tepat, untuk kalian semua, dan untuk diriku sendiri.
Comments
Post a Comment