Guratan Sepasang Ekor Mata
Sungguh, takmudah bagi saya memberi judul blog dengan kalimat di atas. Bukan hanya karena puisi yang akan diulas adalah milik seorang teman sekaligus pemberi tantangan menulis ini, melainkan juga karena 'sebatang pensil warna' yang ada di antara judulnya. Namun, dengan mengucapkan basmalah, saya akan mengulas sebuah puisi berjudul Ekor Matanya Sebatang Pensil Warna karya Amel Widya.
Secara leksikal, pensyair berhasil mencuri perhatian saya. Bagaimana tidak? Dua cerita dengan konflik berbeda berhasil ia satukan dengan suatu objek sederhana, pensil warna. Dari sanalah, Amel mengembangkan gagasan tentang keresahan seorang wanita dan negara dalam sepasang ekor mata yang menjelma layaknya pensil warna dengan penuh guratan di atas kanvasnya. Secara bertahap, kisah keresahan ini diperdalam dalam akhir-akhir baitnya, seolah kita diberi petunjuk sedikit demi sedikit mengenai kilas balik reformasi di tahun 1998 sekaligus perasaan seorang istri yang menjadi tokoh pencerita. Jujur, saya selalu jatuh cinta dengan diksi yang digurat oleh Amel. Terutama seperti Beranda Berahi yang selalu ia tulis, ramuan kejadian paling vulgar sekalipun dapat ditulis dengan metafora yang di luar dugaan seperti salah satu isi bait keempat :
Ekor matanya sebatang pensil warna. Pada Kamis pukul 19.50, ia dobrak pintu rahimku. Dari mulutnya mendetus-detus gairah, mencetus-cetus banyak nama, dan meletup-letupkan maki. Nafsu meledak di batang pensilnya, lalu menjuntai selemah rupiah di depan dolar.
Hanya dalam satu bait, kita dapat merasakan bagaimana satu kejadian dapat digambarkan sebegitu detailnya.
Dan dari tiap baitnya, kita dapat menyimpulkan bahwa tokoh wanita dalam puisi ini terjebak dalam pernikahan tanpa rasa cinta dari sang suami. Namun, pengabdian seorang istri terutama dalam melayani suami adalah sebuah kewajiban. Maka, dari sanalah kita dapat menemukan luka kecil yang dirasakan sang istri di tengah dilema patriarkis era tersebut. Meski pada bait pertama, yang terungkap adalah perasaan bagaimana dari balik ekor mata sang suami, wanita ini dapat melihat jelas bahwa takada dirinya di hati pria tersebut.
Bukan hanya itu, hal yang juga cukup menarik dalam puisi ini adalah pemilihan era reformasi sebagai latar waktu. Zaman ketika presiden kedua Indonesia turun tepat setelah terjadinya demo besar-besaran oleh para mahasiswa. Mengapa saya bilang tertarik? Saya mungkin tidak mengingat dan mempelajari dengan jelas rentang waktu sejarah saat itu, tetapi tingkat kerusuhannya tetap membekas. Kericuhan yang terjadi amat jelas. Semua orang marah, sedangkan sepasang suami istri ini masih terjebak dalam rumah tangganya sendiri. Apalagi, sang istri. Tiada waktu ia memikirkan negara ini padahal dirinya sendiri masih mengalami kerusuhan yang justru takkan berhenti. Terjebak dalam kehidupan rumah tangga demi seorang suami dengan ekor matanya bak pensil warna yang bisa mengguratkan apa saja yang ia mau, sedangkan sang istri yang hanyalah sebuah kanvas tidak dapat melakukan apa pun kecuali pasrah.
Pesan luka mendalam dari seorang istri dan negara pun berhasil menutup ulasan saya terhadap karya Amel Widya. Dengan enam bait puisi modern ini, sungguhlah teman-teman harus membaca dan meresapinya. Apalagi, jika dirimu adalah seorang istri di masa kini. Terima kasih atas tantangan ketujuh Katahati ini. Wasalam.
Comments
Post a Comment