Terjebak atau Sekarat

Glad seharusnya mendengarkanku.

Srek. Sesuatu bergerak, Glad. Mereka bergerak. Setiap langkah yang menyeretmu lebih dalam, datang kembali. Kawanan serigala itu telah mengetahui tempat persembunyian apik yang telah kaubuat. Ah, kayu ek brengsek! Aromanya tidak cukup kuat untuk mengelabui endusan mereka terhadapmu. Harusnya, kau mendengar saran Mora si penakut itu untuk pergi. Namun, percuma. Mereka selalu dapat menangkapmu kapan dan di mana saja. Bulan di atas kepala kita tampak semakin membulat. Tanda bahwa mereka akan bangkit besok. Desa itu akan runtuh, Glad. Runtuh! Mau ke mana lagi kau akan berlari. Tidak selamanya yang kauanggap tepat, ternyata menyelamatkanu dari kejaran mereka. Mereka hanya menginginkanmu. Bahkan, jubah besar dari kulit beruangmu tidak cukup untuk menahan satu gigitan mereka.

Baiklah. Glad si Lycan hebat satu ini tidak bergeming setelah aku panjang lebar menceramahinya. Dia lebih memilih diam dengan pisau di tangan kanannya. Menurutmu, kau cukup pintar, Glad? Ada dua pilihan di depanmu. Diam hingga salah satu dari kawanan itu menyergap dan mengulitimu tanpa ampun atau kau keluar dan berlari secepat kau bisa? Ayo pilih, Glad. Cepat! Lolongan mereka semakin menjadi-jadi.

“Aku bukanlah mereka dan akan selamanya begitu,” gumam Glad sambil mengintip dari sela bebatuan.

Menurutmu saja. Dua orang mati pagi tadi dan kau masih sibuk menata rencana bodohmu untuk melawan mereka. Apakah kau tahu kalau sebentar lagi hujan. Mereka suka hujan, Glad. Kelembaban tanah di bawah kakimu mungkin tidak berubah tetapi di luar sana? Tidak. Bercak langkah yang semakin menggema akan berdatangan. Tanda mereka semakin dekat. Bukan salahku jika dirimu memiliki aroma tubuh yang serupa dengan mereka. Toh dirimu tetap mengelak dijuluki serigala hanya karena kutukan yang mereka berikan saat ibumu berjuang melindungimu dari kawanan itu. Sepasang suami istri yang mati akibat cabikan Sven, sang penjagal andalan mereka, pun takut denganmu. Aku tahu kau hanya bermaksud mengingatkan mereka akan bahaya yang datang. Namun, lagi-lagi itu bukan salahmu. Mereka bebal, Glad. Hutan dan desa adalah tempat yang kurang tepat untukmu. Warga desa tidak akan pernah menerimamu. Mereka hanya pasrah dengan pembantaian kawanan menjijikkan itu setiap harinya. Ayolah, Glad, bergerak! Lari saja secepat kau bisa dan tidak perlu melawan mereka tanpa bantuan Mora. Kuyakin Mora punya alasan kuat meninggalkanmu di tengah pertarungan ini. Aku tahu ia memiliki rencana jitu untukmu. Hanya saja, kau tidak ingin mendengarkannya.

“Berisik! Harusnya kubunuh saja Sven tadi. Ia lengah dan sendiri. Mora memang mengenalnya lebih lama dibandingkan dengan diriku. Keluarganya mati di tangan serigala busuk itu tetapi aku yang ingin ia lawan, bukan Mora. Berlari bukan jawabannya. Pisau ini akan menghunus mereka semua, atau mungkin dua di antara mereka semua. Master pasti akan terluka dengan kematian anak buahnya,” gumamnya perlahan.

Kita berdua tahu kalau Master tidak akan terluka. Ia terkenal tak berperasaan. Dari mana kau tahu kalau ia akan menangisi kepergian para anak buah bodohnya? Aku tidak memahami jalan pikiranmu. Tidak, tepatnya aku tidak tahu harus bagaimana dengan pikiranmu. Kau terjebak dalam ketidaktahuan, kebuntuan, dan keegoisanmu sendiri. Ini pertarungan yang tidak masuk akal, Glad. Aku sendiri tidak tahu akan seperti apa akhirnya. Yang kutahu, kini mereka hanya berjarak sepuluh meter dari gua lembabmu. Tidak ada Mora di sini, Glad. Kau hanya berbekalkan pisau dan jubahmu. Luka di wajahmu saja belum kering, kau malah ingin menambahnya. Sudahlah, Glad. Permintaan ibumu tidak masuk akal. Dirimu yang hanya seorang pemburu beruang dan pemanah, kini harus melawan kawanan yang setiap saat akan mengubahmu jadi santapan penutup atau sekadar jadi bahan candaan di depan warga desa. Kawanan akan berkuasa, Glad. Tujuh meter lagi dan kepalamu akan berada di antara taring panjang mereka. Mora pergi karena mencari bantuan. Ia tahu kau bisa bertahan sebentar lagi. Aku tahu dan yakin dengan pasti akan hal itu. Hantam bebatuan kecil di belakangmu dan kalungkan dirimu dengan akar tua yang menjuntai di bawah pohon Ek ini lalu turun perlahan pada pinggir tebing. Gua sementara ini cukup menahan bobot tubuhmu, kok! Ayolah, cepat! Lima meter dan tubuhmu sudah tercium tajam oleh hidung mancung Sven. Mereka mendengus kencang. Bisa kukatakan bahwa mereka dalam jumlah lengkap. Lima serigala busuk dengan satu betina di antaranya. Salah satu dari mereka menyeret kaki berbulunya. Itu pasti Sven. Luka panah Mora pasti masih membekas di sana. Dan… Master, iya, dia masih gagah dengan napas beratnya. Napas terberat yang bisa kaudengar. Dua meter lagi dan tawa menggelegarnya membuatmu merinding, bukan? Ayo, Glad! Lakukan sesuatu!

“Baiklah. Aku akan berlari untuk sementara,” tiba-tiba kau berkata itu, Glad. Terlambat. Penjagal pincang itu sudah melontarkan ejekannya. Ia tahu kau di sini, Glad. Sungguh, kau hanya memiliki sekian detik untuk melakukan hal-hal yang kusarankan tadi. Kau terjebak dan aku pun terjebak. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menyelamatkanmu. Bisa saja aku buat dirimu seperti Harry Potter yang tertolong karena patronus rusa betina milik Severius Snape1 atau Frodo Baggins yang selalu ditemani Samwise Gamgee2 untuk menghancurkan cincinnya. Apakah aku harus membuatmu mati? Ataukah ada ide lain agar ceritamu menarik? Sungguh, kita sama-sama terjebak, Glad. Engkau dengan kawanan serigala dan aku dengan kebuntuanku. Aku penat. Aku butuh istirahat. Menulis bukanlah hal yang cukup mudah untuk kulakukan. Namun, editorku menunggu Nina Diets untuk menyelesaikan ceritamu. Maafkan aku, Glad. Aku simpan ceritamu untuk sesaat. Aku ingin tidur. Pikiranku terkunci. Aku harus kembali pada realita malam ini. Aku benar-benar ingin tidur. Sampai jumpa, Glad. Pagi nanti aku akan datang dengan ide terbaikku. Aku berjanji padamu.

------------------------------------------
1 Cerita dalam buku Harry Potter
2 Cerita dalam buku The Lord of The Ring
------------------------------------------
Tulisan ini untuk memenuhi tantangan ke-8 #KatahatiChallenge #KatahatiProduction. Semoga kelak dapat terealisasi untuk menerbitkan sebuah buku. Ya, suatu saat nanti, saat aku siap.

Comments

Popular posts from this blog

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Sedotan Besi