Negara Perempuan
"Halo!"
"Halo! Dari siapa di mana?" tanya Rani singkat.
Mulai lagi. Sulit memang mengerti perempuan satu ini. Tiada hari tanpa tindakan konyol. Bahkan, mengangkat telepon bisa menjadikannya seperti pembawa acara kuis di televisi. Pernah suatu kali kami bertengkar hebat karena Rani kesal. Bukan kesal karena apa-apa, melainkan siklus menstruasi dan segala tetek-bengek emosi sesaatnya. Aku menanyakan perihal makanan apa yang akan kami santap siang itu, dia hanya berkata "terserah". Giliran kuajak dirinya makan di salah satu warteg kesukaan kami, mukanya cemberut dan berujung dengan gerutu tanpa akhir. Lalu kejadian itu berlanjut hingga malam hari di depan rumahnya. Menurutnya, aku tidak mengerti perasaannya. Aku yang sudah cukup sabar menghadapinya seharian, naik pitam.
"Lantas kamu mau apa, Ran? Makan ini enggak mau, jajan itu enggak mau, maunya apa?" tanyaku saat itu dengan nada marah. Dia sontak terkejut dan air matanya berlinang seketika. Duh, salah lagi aku.
"Kok gitu?" tanyanya sesenggukan.
"Habisnya, aku hanya mencoba memahamimu, memahami PMS-mu hari ini. Aku bukan orang yang sabar, Ran. Tapi demi kamu, aku rela dimarahi seharian demi meringankan rasa enggak jelasmu," jawabku melembut.
Dia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Aku masih bisa merasakan sedikit kekesalan di balik dadanya. Ia tidak menanggapi satu pun kalimat yang aku ucapkan.
"Ran, cobalah lebih dewasa, ya. Bukan untukku, melainkan dirimu. Hormon itu bisa kamu tekan dengan kesabaran. Aku pun sabar denganmu, sampai kapan pun, Ran. Aku akan setia setiap saat!"
"Rexona kali, ah!" jawabnya tiba-tiba. Aku pun memeluknya erat.
Keesokan harinya, aku, Bagja, dan Rauf berkumpul di kantin depan kampus. Seperti biasa, kami memesan dua gado-gado tanpa pare dan satu ketoprak tanpa tahu. Yang beda menu, tentu saja pesananku. Sambil menunggu makanan datang, Bagja berlari kecil ke salah satu warung untuk membeli rokok sedangkan diriku dan Rauf sudah membakarnya lebih dulu.
"Kowe kapan ngelamar Rani, Cuk?" tanya Bagja tiba-tiba.
"Mbuh, setelah lulus dan berhasil ngurusi perusahaan bapakku, Jo!" Aku memang belum berencana jauh untuk menikahi Rani mengingat kami masih sama-sama sibuk menyelesaikan skripsi.
"Ngopo kon takon iku, Jo?" Rauf dengan sigap menjawab setelah kembali duduk di antara kami.
"Lah, ndak. Kita ini kan cah Jawa yang dikaruniahi kemampuan untuk awet dalam berpacaran. Iya, tho?" lanjutnya, "apakah enggak terbersit sedikit saja niatan untuk itu, hei kawan-kawanku?" Bagja berlagak seperti cendekiawan Jawa. Kami hanya bisa tertawa.
Tak berselang lama, makanan tiba dan kami mematikan rokok demi melahap santapan bersaus kacang yang menggoda selera. Aku menyadari masih ada yang tertahan di balik mulut Bagja yang penuh gado-gado. Tatapannya seperti pria jahil yang siap menerkammu kapan saja. Rauf memilih fokus pada piringnya dan aku hanya memalingkan wajah sesekali ke arah pangkalan ojek di belakang kami. Piring bersih dari makanan, tanda akan hadir pertanyaan sakti milik Bagja, lagi. Namun, sebelum itu terjadi, Rauf sudah mencuri start.
"Kalau dipikir-pikir, perempuan tuh seperti sistem pemerintahan, Gaes!" ucap Rauf dengan logat kentalnya.
"Kok bisa?" tanyaku.
"Lha, Nana itu kayak komunis. Semua dia yang pegang. Kontrol, permintaan jajan, film yang mau ditonton, sampai pakaian apa yang pas buatku saat nge-date. Apa namanya kalau bukan komunis? Beda sama cewekmu, Jo! Liberal." Ia berpaling ke arah Bagja. Bagja pun hanya tertawa.
"Whoo, kamu enggak tahu saja. Saking liberalnya, kantongku ambles! Sekali makan bisa habis jatah pulsa dua bulan. Belum lagi bedaknya yang berapa lapis itu. Bebas memang. Bebas lepas uangmu mbuh ke mana!"
Aku tertawa geli dan kembali membakar rokokku.
"Bersyukur kalian harusnya, Jo, Up... !" sahutku tenang.
"Lah, kok?" jawab mereka kompak.
"Yang terpenting kan enggak dapat pacar yang demokrat, Cuk!"
"Loh, bukannya malah bagus?" timpal Rauf.
"Bagus, sih. Tapi tunggu sampai dia buat empatpuluh lagu dan lima album."
---
Catatan penulis :
Tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tantangan kesembilan Katahati Challenge dan untuk dinilai oleh @arcotransep. Terima kasih.
Comments
Post a Comment