Kompor Meledak

Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui, deng. Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga.

Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak jauh-jauh, cukup ku tolehkan kepala ke arah jam dua dari tempatku mengetikkan sepuluh jariku. Pria dingin yang tak pernah mau berbicara atau setidaknya mengucapkan beberapa kata basa basi di setiap kali kami sama-sama bekerja hingga larut malam. Huh, sepi tauk! Beberapa kali aku mencoba mengajaknya bercanda atau sekadar menawarkan makanan yang akan dipesan lewat aplikasi ojek online tetapi tetap tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Saking penasaran, aku hanya menggerutu sambil menggambar wajahnya di atas kertas kosong dengan taring dan tanduk hitam di atas kepalanya. Sayangnya, ia pernah memergokiku menggambar dirinya. Itulah kali pertama dan terakhir ia tertawa padaku. Itu pun dengan dirinya yang langsung beranjak meninggalkan diriku sendiri di ruang kerja.

Tidak. Kali ini, aku harus berhasil mengajaknya berbicara. Aku sudah terlalu pusing dengan pekerjaanku dan bosan dengan rentetan daftar lagu di Spotify. Belum juga aku beranjak dari kursiku, pria tersebut tiba-tiba berdiri lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian, ia menggosok-gosokkan kedua lengan atasnya. Mungkin ia pusing dengan pekerjaan atau kedinginan karena pendingin ruangan. Atauuuu, keduanya. Ah, aku jadi salah tingkah sendiri. Ia menatapku lama tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku merinding. Apa yang akan ia lakukan kepadaku? Ia masih menatapku lekat-lekat dan melangkahkan kakinya ke arahku. Tak begitu cepat, tak begitu lambat. Jujur, aku tidak takut padanya. Malah, tak ada rasa itu sedikit pun yang hadir tetapi butiran keringat keluar dari belakang telingaku. Dia mau apa?

Pria itu menyergap kedua pergelangan tanganku dalam diam dan menatapku semakin dalam tanpa berbicara. Kemudian, ia memutar kursiku kembali menghadap laptop. Jarak tubuhnya kini hanya beberapa senti dari sandaran kursiku. Napasnya terdengar cepat. Tanpa sadar, aku pun menarik napas panjang tanpa terdengar olehnya. Tanganku masih dicengkeramnya. Mungkin ada sekitar satu menit kami mematung seperti ini. Lalu, perlahan ia meletakkan tanganku di atas tombol-tombol huruf laptopku. Jarak wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajahku. Hawa hangat terasa di bagian kiri wajahku. Dia masih tersengal. Diam, tetap diam. Tiba-tiba, ia melepaskan kedua tangannya. Bekas tipis merah tercetak di sekeliling pergelangan tanganku. Ia berdiri tegap lalu meninggalkanku. Menghilang entah ke mana. Tak ingin ku mengejarnya. Buat apa? Namun, tubuhku terus berkeras mengajakku untuk berdiri mencarinya. Sebentar saja, aku terpaku. Lalu, aku meyakinkan diriku untuk menghampiri dirinya yang entah di mana. Entah karena apa.

Di studio, tak ada tanda-tanda akan dirinya. Ku langkahkan kaki menuju ruang belakang tempat kami biasa merokok. Sama. Aku bingung mengapa aku terus mencari sosoknya. Kantorku bukanlah tempat yang terlalu besar. Hanya berbentuk rumah yang mungkin tadinya berisikan 4 kamar besar dengan tiga toilet di dalamnya. Kini langkahku kian cepat. Aku setengah berlari ke sisi kanan rumah besar ini. Masih sama. Tak lama, nada dering chat berbunyi dari dalam. Aku berlari mengambil ponsel dan dua kata tertulis di layar lima setengah inci ini. 'Di sini'. Iya, itu darinya. Aku membalas dengan bertanya di mana tetapi tak ada jawaban selain kata 'kau tahu'. Aku berusaha menebak bak peserta kuis Galileo Galileo yang diberikan tiga opsi untuk menjawab. Dia di ruang rapat, di depan pagar, atau di gudang penyimpanan alat-alat syuting. Baiklah, ku rasa dia di sana.

Benar saja. Ia sedang asik membakar sebatang rokok miliknya sembari duduk. Rambut panjangnya terurai. Kaus merahnya tak tertutup jaket lagi. Ia menoleh kepadaku lalu kembali menatap apa pun yang ada di hadapannya. Hanya ada dinding dan beberapa pohon palem muda yang ditanam penjaga kami baru-baru ini. Aku seketika ragu untuk mendekatinya tetapi ragaku tak memiliki logika. Ia berjalan lembut menghampiri pria dengan sunggingan senyum kecil itu. Secara otomatis, aku duduk di sebelahnya lalu terdiam. Ia pun tak bergeming.

Sudah lima belas menit kami duduk dalam diam dan pria di sebelahku tanpa alasan menarik tangan kiriku untuk diletakkan di atas paha kanannya. Tak sepenuhnya di kanan, lebih menjurus ke bagian dalam pahanya. Hatiku berdebar. Bukan debaran takut. Lebih menyerupai debaran panas yang kian membakar hatiku. Kemudian, ia mengangkat tangan kanannya dan melewati kepala dan bahuku. Ia kalungkan lengan panjangnya di punggungku. Bukan, lebih ke arah garis tipis yang terbentang di balik bajuku dan berada di tengah-tengah punggung kecilku. Ujung jarinya sedikit terselip di antara lengan dan punggungku. Andai bisa ku tiupkan napasku, mungkin pipiku akan membulat besar dan mengeluarkan suara cukup keras. Namun, tidak. Aku tetap terdiam. Tanganku pun tak beranjak dari tempatnya. Malah, secara tiba-tiba ingin sekali jemari ini bergerak entah ke mana. Duh, apa ini. Dia menoleh lagi. Lebih dekat. Bibirnya hanya berjarak enam senti dari hidungku. Sontak bahuku berpaling ke arahnya. Matanya cokelat hangat. Kini, aku mendekatkan dadaku ke arahnya. Tangan kiriku menekan pahanya lebih dalam. Ia sontak mengernyitkan dahinya dan menempelkan hidungnya tepat di antara pipi kanan dan lekukan hidung kananku. Aliran darahku menderas dan keringat seukuran jagung mulai menetes di sela-sela rambutku. Ia makin mendekat. Tatapannya semakin dalam dan... ia terhenti. Tangan kirinya menekan dan menggenggam tangan kiriku. Ia menunduk di dekat rambut keritingku.

"Diamku jangan kau tunggu. Aku yang harus kau tunggu."

Aku tersentak.

"Anggukkan kepalamu dan mari kita lepas penderitaan ini hingga nanti."

Aku mengangkat kepalaku dan ia langsung memelukku erat. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Sedotan Besi