Panci Gosong

Tampak  tak menggairahkan. Seorang pria yang sudah tak muda lagi berdiri di hadapanku. Ah, hitam legam lagi. Namun, kalau diperhatikan, tidak sehitam yang kubayangkan. Hanya beberapa warna gelap di setiap lipatan kulit pergelangan tangan, leher, maupun lesung pipit manis yang terlihat nyata dengan senyuman pertamanya. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan malam ini agar tampak lebih baik seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Tak banyak yang ia utarakan selain kata 'iya', 'belum', atau sekadar dehaman. Ini adalah kali pertama ia menemukan wanita sepertiku, katanya. Ah, sudah beberapa pria berkata demikian. Lelaki seringkali berbohong, Lin! Namun, ada sensasi berbeda pada malam berhujan rintik kali ini. Nada bicara pria ini tak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk memilikiku. Raut wajahnya pun tetap datar. Entah apa aku yang terlalu lemas setelah menenggak setengah botol Amer tadi atau memang ke-terlalu-biasa-annya membuatku terbuai. Bahkan, gerakan menyisir rambut gondrong dengan jemarinya pun begitu melemahkanku. Hah, sadarlah, Liiin! Katamu ia tadi tak menggairahkan. Lalu, mengapa kini kau begitu menderita hanya dengan tingkahnya yang melebihi batas standar bawah?

Aku gila, pikirku. Untung saja dua piring nasi goreng kafe ini berhasil mengalihkan pikiranku. Tapi tunggu! Mengapa perutku menegang? Hei, ini bukan sensasi lapar, lho! Ada yang menggelitik di bawah sana. Kuapitkan kedua pahaku kencang tetapi rasanya semakin aneh. Ada bagian kulitku yang terasa menebal. Kebal lalu beranjak membuat egoku menjadi bebal. Eh, kenapa jarinya menyentuh pahaku? Bukan, bukan. Bukan jarinya. Jelas-jelas ia sedang menyendok nasi goreng dan telur dadar tipis di piringnya. Duh, bodoh kamu, Lin! Pikirkan sesuatu yang serius. Ingat lagi bagaimana kamu menggosongkan panci mahal IKEA-mu tadi pagi atau kulit punggung tanganmu yang terkena gagang panci yang masih panas itu. Apa saja deh.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

Tuhaan! Mulutku kelu. Kan tinggal bilang tidak apa-apa. Duh, mengapa bibirku mengatup seketat ini sih? Ku gelengkan saja kepalaku. Namun, ada lagi yang aneh. Tengkukku hangat. Ia meniup tengkukku lembut. Namun, itu takkan mungkin. Jelas-jelas ia berada di hadapanku. Ku gosokkan kedua tanganku sambil menekan leher agar rasa itu hilang. Namun, tidak juga. Epidermis di antara dua labia ini makin menebal. Kalau kuletakkan tanganku di situ, canggung aku. Ia tampaknya menyadari kegelisahanku. Si bulu roma tebal sepanjang lengan pelakunya. Ia berdiri tegak seiring komando impuls syaraf yang baru saja berteriak dari dalam tubuhku dan lelaki berambut panjang di depanku menangkap momen tersebut. Tanpa basa-basi, ia menarik tanganku keluar kafe. Genggamannya tidak begitu kencang tapi cukup untuk menarik tubuh gempalku dan aku dapat merasakan getaran hebat dari tangannya. Raut wajahnya berubah. Ia berulang kali menoleh sambil terus menarik tanganku hingga dua ratus meter jauhnya dari kafe tempat kami bertemu tadi.

Ia terhenti. Napasnya memburu. Tangan kanannya menekan dada kirinya yang bidang. Seketika, ia menoleh padaku, membuka mulut lalu kembali mengatupkannya. Tak sampai satu detik, aku sudah berada di antara kedua lengannya. Wajahku menempel tepat di antara kedua dadanya. Degup jantungnya kencang tetapi lambat laun memelan. Aku hanya bisa terdiam dengan rasa campur aduk. Aku memejamkan mataku. Ada sesuatu yang salah sepertinya. Tak berselang lama, ia melepas pelukannya. Kecupan hangat pun hinggap di kening lebarku dan tiba-tiba bibir tipisnya sudah menempel tepat di telinga kananku.

"Bersabar. Ranjangku cukup kuat untuk kita berdua. Asal kau mau berkata 'iya'."

Aku masih terdiam dan ia kembali menarikku perlahan.

"Tubuhku cukup kuat untuk kita berdua. Asal sisa waktumu mau berkata 'iya'."

Comments

Popular posts from this blog

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Sedotan Besi