Posts

Kompor Meledak

Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui,  deng . Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga. Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak ...

Panci Gosong

Tampak  tak menggairahkan. Seorang pria yang sudah tak muda lagi berdiri di hadapanku. Ah, hitam legam lagi. Namun, kalau diperhatikan, tidak sehitam yang kubayangkan. Hanya beberapa warna gelap di setiap lipatan kulit pergelangan tangan, leher, maupun lesung pipit manis yang terlihat nyata dengan senyuman pertamanya. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan malam ini agar tampak  lebih baik seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tak banyak yang ia utarakan selain kata 'iya', 'belum', atau sekadar dehaman. Ini adalah kali pertama ia menemukan wanita sepertiku, katanya. Ah, sudah beberapa pria berkata demikian. Lelaki seringkali berbohong, Lin! Namun, ada sensasi berbeda pada malam berhujan rintik kali ini. Nada bicara pria ini tak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk memilikiku. Raut wajahnya pun tetap datar. Entah apa aku yang terlalu lemas setelah menenggak setengah botol Amer  tadi atau memang ke-terlalu-biasa-annya membuatku terbuai. Bahkan, gerakan menyi...

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Image
Kelas Skenario (Salman Aristo), Saya Pengen Jadi Copy Writer (Budiman Hakim), Steal Like an Artist (Austin Kleon) Assalamu'alaikum, teman-teman. Hari ini hari terakhir bekerja di kantor dan tampaknya ada dua hal besar yang cukup menyita pikiran. Salah satunya adalah kerinduan dengan Kyan yang semakin besar menjelang mudik dua hari lagi dan satunya lagi adalah pekerjaan yang akan menanti setelah cuti nasional berakhir. Sensasi baru yang dirasakan setelah lebih dari setengah tahun menggeluti dunia kreatif. Yang sebelumnya terbiasa dengan kerja serabutan sebagai tukang gambar-banyak-masalah hingga hamba palugada-yang-penting-bisa-makan dan bisa mengobati sinus yang kian meradang. Alhamdulillah. Sungguh untuk lulusan SMA (secara belum resmi lulus mahasiswi Sastra Inggris), bekerja sebagai tim kreatif adalah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan sekaligus bikin penasaran. Betapa tidak, dimulai hanya menjadi seorang sekretaris redaksi yang tak bertahan lama, beralih ...
Image
Nak, rindu ini terasa begitu tajam tatkala pelukmu tak hinggap di dadaku. Tanpa tawa geli maupun tangis sedu sedanmu, tanpa celoteh maupun diammu. Apakah ini pertanda aku harus siap atau mungkin dirimu lah yang harus siap tanpa hadirnya diriku sebagai ibu? Entahlah, kita sama-sama belum tahu. Yang pasti, Tuhan mempersiapkan setiap hidup hamba-Nya yang terus mengadu. Jiwa ini tampaknya sudah semakin kaku untuk melihat banyak keinginan semu. Hanya cemas dan takut apabila seorang Karina tak dapat mewujudkan mimpimu. Tak ada yang indah selain surga, kata Ia Sang Maha Tahu. Namun, bagiku yang memiliki hidup setipis kain kacu, seorang Kirana sudah jauh lebih indah dari itu. Mati atau tak dapat hidup sendiri. Dua hal yang terlalu sulit untuk diterjemahkan meski ribuan pilihan sering hadir dalam diri tetapi jikalau itu yang kan datang sekarang atau nanti, biar aku membanjiri sedih dengan kata-kata yang menenangkan hati. Kepalaku berputar untuk mengetahui sakit atau tidaknya itu nanti...

Neraca Tirta

Hei, aku akan menceritakanmu kali ini. Bagaimana rumit dan recehnya diriku jatuh cinta pada seorang lelaki sepertimu. Ah, remeh temeh kalau urusan begini. Lebih baik biarkan jari ini menari tanpa satu pakem yang berarti. Entah bagaimana caranya mendobrak diammu sejak pertamaku ‘masuk’ hingga kini aku dapat melihat setiap jengkal pori-pori kulit yang tertutup kaus hitammu. Terasa aneh dan memberikan sensasi geli. Bagaimana jika tanggal enam belas itu tak pernah menjadi tanggal di mana aku meminta pulang kerja bersamamu. Tentunya tidak akan ada kecupan-kecupan hidungku yang hinggap di helai rambut panjangmu. Ah, tak pandai aku merangkai kata romantis. Toh, memang dirimu tak romantis, begitu pun aku. Jadi, jangan marah kalau kau orang pertama yang membuatku merasakan sensasi 'gelas merah' ala Fourtwnty di setiap senja tiba. Ingat malam itu? Ketika seorang lelaki gondrong nan seram tiba-tiba tersipu malu oleh tatapan janda muda-satu-anak ini? Haha. Sungguh aku gemas d...