Nak, rindu ini terasa begitu tajam tatkala pelukmu tak hinggap di dadaku. Tanpa tawa geli maupun tangis sedu sedanmu, tanpa celoteh maupun diammu. Apakah ini pertanda aku harus siap atau mungkin dirimu lah yang harus siap tanpa hadirnya diriku sebagai ibu? Entahlah, kita sama-sama belum tahu. Yang pasti, Tuhan mempersiapkan setiap hidup hamba-Nya yang terus mengadu. Jiwa ini tampaknya sudah semakin kaku untuk melihat banyak keinginan semu. Hanya cemas dan takut apabila seorang Karina tak dapat mewujudkan mimpimu. Tak ada yang indah selain surga, kata Ia Sang Maha Tahu. Namun, bagiku yang memiliki hidup setipis kain kacu, seorang Kirana sudah jauh lebih indah dari itu.

Mati atau tak dapat hidup sendiri. Dua hal yang terlalu sulit untuk diterjemahkan meski ribuan pilihan sering hadir dalam diri tetapi jikalau itu yang kan datang sekarang atau nanti, biar aku membanjiri sedih dengan kata-kata yang menenangkan hati. Kepalaku berputar untuk mengetahui sakit atau tidaknya itu nanti. Apakah amalku cukup untuk menjadi hamba Tuhan yang sejati ataukah baikkah aku menjadi ibu yang menyukseskan si buah hati. Entahlah, Nak, Itu hanyalah sebuah kerisauan yang terus menghampiri, dengan atau tanpa tantangan dari Kata Hati.

Sejenak, aku berpikir tentang dulu aku yang merasakan setiap denyut nadi ayah yang berangsur menghilang dari sentuhan jari ini. Lalu, siapakah yang akan merasakannya nanti? Apakah dirimu atau orang lain yang tak lebih berarti? Jikalau dulu kulitku yang menyentuh dingin mengalir dari tubuh ayahku, lalu siapakah yang harus menanggung sensasi memedihkan itu? Kita sama-sama tak tahu, Nak.

Nak, tak ada yang lebih menyedihkan jikalau Mbu tak dapat melihatmu menari dan berlari demi mimpi yang kau gadang-gadang sejak pertama kali berdiri. Sebuah tawa. Tawa bahagia atas keberhasilanmu untuk itu. Sebuah keberhasilan kecil yang lebih berarti dari jutaan lembar uang maupun rumah mewah yang mengisi hari-hari. Ku bayangkan sosokmu kelak menangis agar dapat tertawa lepas. Bukan untuk mereka atau pun aku. Hanya untukmu. Mungkinkan akan tetap seperti itu meski kematian sudah berada di dekatku? Entahlah, ketakutanku hanyalah ketakutanku. Itu takkan membuatku mundur atau merendahkanmu. Takkan mematahkan semangatmu atau bahkan melukai hasratmu. Berlarilah, Nak, meski aku tak berada di sampingmu lagi kelak.

Dan jika kematian hadir di depan mata
Biar aku yang redamkan seluruh luka
Dan jika kematian di dekat dada
Biarkan aku yang redupkan seluruh duka
Dan jika lantunanmu di samping telinga
Biar waktuku yang hapuskan air mata

Biar aku tiada
Kau tetap ada
Biar aku tak banyak berupaya
Kau tetap kuatkan jiwa
Biar aku sudah di mana
Kau tetap ingat aku dalam doa

Ibu muda yang mungkin hidupnya takkan lama
Dari seorang Karina untuk Kirana
Semoga nanti seseorang kan tunjukkan ini untuk dirimu, Cinta...

Comments

Popular posts from this blog

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Sedotan Besi