Neraca Tirta


Hei, aku akan menceritakanmu kali ini. Bagaimana rumit dan recehnya diriku jatuh cinta pada seorang lelaki sepertimu. Ah, remeh temeh kalau urusan begini. Lebih baik biarkan jari ini menari tanpa satu pakem yang berarti.

Entah bagaimana caranya mendobrak diammu sejak pertamaku ‘masuk’ hingga kini aku dapat melihat setiap jengkal pori-pori kulit yang tertutup kaus hitammu. Terasa aneh dan memberikan sensasi geli. Bagaimana jika tanggal enam belas itu tak pernah menjadi tanggal di mana aku meminta pulang kerja bersamamu. Tentunya tidak akan ada kecupan-kecupan hidungku yang hinggap di helai rambut panjangmu.

Ah, tak pandai aku merangkai kata romantis. Toh, memang dirimu tak romantis, begitu pun aku. Jadi, jangan marah kalau kau orang pertama yang membuatku merasakan sensasi 'gelas merah' ala Fourtwnty di setiap senja tiba.

Ingat malam itu? Ketika seorang lelaki gondrong nan seram tiba-tiba tersipu malu oleh tatapan janda muda-satu-anak ini? Haha. Sungguh aku gemas dibuatmu. Aku memanglah seorang pecinta mata dalam dan rambut gondrong. Namun, tak ada yang membuatku terkejut melainkan sikap anehmu. Seketika, syaraf ini rusak. Ada yang membisikkan kata 'mau' di telinga kanan dan kata 'andai' di telinga kiriku. Ah, baru saja menjadi tebengan

Lalu, ingatkah ketika malam itu kau bertanya apakah aku ingin mengalungkan tangan di pinggangmu dengan gaya bercanda tanggungmu dan kutimpalkan jawaban yang membuatmu tertawa? Sungguh puasnya degup jantungku oleh tawa renyahmu. Setengah jam terasa cepat, bukan?

Belum lagi kiriman gif sepasang kucing lucu yang kau kirimkan tengah malam itu, bayangan akan lelaki kokoh dan seram retak seketika. Membayangkan bagaimana sentakan leher saat dirimu tertawa saja sudah membuatku geleng-geleng kepala. Duh, kau memang aneh, Tuan!

Mungkin tak terhitung sudah kelucuan-kelucuanmu yang mungkin takkan dimengerti orang lain. Setidaknya, sisi itulah yang selalu ku rindu. Meski, akhirnya ku mendapatimu dalam keadaan sendu, lemah, atau pun marah. Aku hanya mencoba berusaha mengerti dan memahami. Terlebih lagi, diamnya dirimu yang tak tertembus siapa pun. Aku hanya berterima kasih akan setiap kesempatan untuk mendengar kisahmu yang ada. Tanpa bertanya, tanpa kekesalan berarti. Maklum, delapan puluh persen kata-kata hanya bisa bersembunyi di balik katup bibir tipismu.

Jadi, haruskah aku melanjutkan cerita tentangmu? Nanti saja jika kita berjodoh, ya.

Salam dari seorang tirta kepada neraca.

Comments

Popular posts from this blog

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Sedotan Besi