Posts

Showing posts from 2018

REVIEW FILM : MILLY DAN MAMET - Gagal Mellow

Image
Penggemar Ada Apa dengan Cinta dan Ernest Prakasa harus nonton film yang satu ini. Yap, kali ini saya akan mengulas satu lagi karya dari suami Meira Anastasia. Milly & Mamet. Dua karakter penuh keluguan, naif, dan telmi . Film yang rilis di bulan Desember ini mengangkat kisah perjalanan rumah tangga seorang Milly dan Mamet setelah bertemu di suatu malam. Bagaimana Milly menjadi ibu rumah tangga sekaligus Mamet yang akhirnya menjadi kepala pabrik konveksi. Inti masalah pun terjadi setelah Mamet memutuskan mengejar impiannya menjadi Chef lalu Milly yang ingin kembali menjadi wanita karir. Bagaimana mereka mengatasi konsekuensi akan pilihan mereka? Segera ke bioskop, ya, mumpung masih tayang, loh! Nah, ada beberapa hal menarik seputar film ini. Dimulai dengan sub judul 'Bukan Rangga dan Cinta', lalu ada tiga tokoh pada poster, hingga pastinya bagaimana sisi komedi akan mengemas keseluruhan cerita. Jadi, simak ulasan saya berikut ini. Gagal Mellow Berbeda dengan bebe...

MOVIE REVIEW : BIRD BOX (2018)

Image
source : Official Trailer Bord Box by Netflix - Youtube Hai... Gimana libur natal kemarin? Sudah menonton apa saja? Seperti janji-yang-telat sebelumnya di twitter atau instagram, kali ini, saya akan membahas satu film yang diperankan tokoh utama kesayangan dari SD, Sandra Bullock. ( AAAAA!!! ) , Bird Box! Pertamanya, sempet ragu nonton ini karena selain saya yang sudah enggak biasa dengan film thriller (secara jantung udah enggak kuat). Namun, cuplikan film Sandra Bullock satu ini amat menggoda. Dengan pola cerita serupa dengan A Quiet Place atau Hush, Bird Box mengangkat cerita seorang Malorie (Sandra Bullock) beserta kedua anaknya menyusuri sungai jeram untuk menyelamatkan diri dari serangan makhluk aneh. Tentunya, dengan syarat mereka harus menutup mata. Film sendiri dimulai dengan fenomena teror aneh yang menyerang mulai dari Kanada hingga ke Michigan. Semua orang mendadak melakukan aksi bunuh diri tanpa sebab. Kejadian serupa dijumpai Malorie hingga akhirnya ia...

MOVIE REVIEW : Three Versions of Perfect Stranger

Image
It's movie time! Enggak terasa akan ada tujuh hari lagi sebelum akhirnya kembali menjalani aktivitas di kantor. Well , kerjaan memosting di akun instagram kantor enggak masuk hitungan sih . But, let's stop talking about it. I wanna show you my review on one of the new Netflix Movies. Here we go! Awalnya, saya tertarik dengan satu judul cerita, yaitu " Nothing to Hide ". Dengan konsep cerita tujuh orang sahabat dengan tiga pasang di antaranya merupakan pasangan. Mereka memutuskan melakukan sebuah permainan di mana masing-masing ponsel harus diletakkan di atas meja. Kalian pasti bisa menebak kelanjutannya, bukan? ( bukaaan... ) Konsep dan premis dari cerita ini bisa dikatakan berhasil membuat saya tetap duduk di atas kasur nan penuh debu di kamar. Setiap jeda masalah yang timbul hingga berbagai fakta seputar pertemanan dan pernikahan di antara mereka menjadikan film ini berhasil menarik emosi penonton secara dinamis. Bagaimana tidak, kedekatan alur c...

Kompor Meledak

Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui,  deng . Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga. Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak ...

Panci Gosong

Tampak  tak menggairahkan. Seorang pria yang sudah tak muda lagi berdiri di hadapanku. Ah, hitam legam lagi. Namun, kalau diperhatikan, tidak sehitam yang kubayangkan. Hanya beberapa warna gelap di setiap lipatan kulit pergelangan tangan, leher, maupun lesung pipit manis yang terlihat nyata dengan senyuman pertamanya. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan malam ini agar tampak  lebih baik seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tak banyak yang ia utarakan selain kata 'iya', 'belum', atau sekadar dehaman. Ini adalah kali pertama ia menemukan wanita sepertiku, katanya. Ah, sudah beberapa pria berkata demikian. Lelaki seringkali berbohong, Lin! Namun, ada sensasi berbeda pada malam berhujan rintik kali ini. Nada bicara pria ini tak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk memilikiku. Raut wajahnya pun tetap datar. Entah apa aku yang terlalu lemas setelah menenggak setengah botol Amer  tadi atau memang ke-terlalu-biasa-annya membuatku terbuai. Bahkan, gerakan menyi...

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Image
Kelas Skenario (Salman Aristo), Saya Pengen Jadi Copy Writer (Budiman Hakim), Steal Like an Artist (Austin Kleon) Assalamu'alaikum, teman-teman. Hari ini hari terakhir bekerja di kantor dan tampaknya ada dua hal besar yang cukup menyita pikiran. Salah satunya adalah kerinduan dengan Kyan yang semakin besar menjelang mudik dua hari lagi dan satunya lagi adalah pekerjaan yang akan menanti setelah cuti nasional berakhir. Sensasi baru yang dirasakan setelah lebih dari setengah tahun menggeluti dunia kreatif. Yang sebelumnya terbiasa dengan kerja serabutan sebagai tukang gambar-banyak-masalah hingga hamba palugada-yang-penting-bisa-makan dan bisa mengobati sinus yang kian meradang. Alhamdulillah. Sungguh untuk lulusan SMA (secara belum resmi lulus mahasiswi Sastra Inggris), bekerja sebagai tim kreatif adalah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan sekaligus bikin penasaran. Betapa tidak, dimulai hanya menjadi seorang sekretaris redaksi yang tak bertahan lama, beralih ...
Image
Nak, rindu ini terasa begitu tajam tatkala pelukmu tak hinggap di dadaku. Tanpa tawa geli maupun tangis sedu sedanmu, tanpa celoteh maupun diammu. Apakah ini pertanda aku harus siap atau mungkin dirimu lah yang harus siap tanpa hadirnya diriku sebagai ibu? Entahlah, kita sama-sama belum tahu. Yang pasti, Tuhan mempersiapkan setiap hidup hamba-Nya yang terus mengadu. Jiwa ini tampaknya sudah semakin kaku untuk melihat banyak keinginan semu. Hanya cemas dan takut apabila seorang Karina tak dapat mewujudkan mimpimu. Tak ada yang indah selain surga, kata Ia Sang Maha Tahu. Namun, bagiku yang memiliki hidup setipis kain kacu, seorang Kirana sudah jauh lebih indah dari itu. Mati atau tak dapat hidup sendiri. Dua hal yang terlalu sulit untuk diterjemahkan meski ribuan pilihan sering hadir dalam diri tetapi jikalau itu yang kan datang sekarang atau nanti, biar aku membanjiri sedih dengan kata-kata yang menenangkan hati. Kepalaku berputar untuk mengetahui sakit atau tidaknya itu nanti...

Neraca Tirta

Hei, aku akan menceritakanmu kali ini. Bagaimana rumit dan recehnya diriku jatuh cinta pada seorang lelaki sepertimu. Ah, remeh temeh kalau urusan begini. Lebih baik biarkan jari ini menari tanpa satu pakem yang berarti. Entah bagaimana caranya mendobrak diammu sejak pertamaku ‘masuk’ hingga kini aku dapat melihat setiap jengkal pori-pori kulit yang tertutup kaus hitammu. Terasa aneh dan memberikan sensasi geli. Bagaimana jika tanggal enam belas itu tak pernah menjadi tanggal di mana aku meminta pulang kerja bersamamu. Tentunya tidak akan ada kecupan-kecupan hidungku yang hinggap di helai rambut panjangmu. Ah, tak pandai aku merangkai kata romantis. Toh, memang dirimu tak romantis, begitu pun aku. Jadi, jangan marah kalau kau orang pertama yang membuatku merasakan sensasi 'gelas merah' ala Fourtwnty di setiap senja tiba. Ingat malam itu? Ketika seorang lelaki gondrong nan seram tiba-tiba tersipu malu oleh tatapan janda muda-satu-anak ini? Haha. Sungguh aku gemas d...
Catatan Hitam. Sejatinya, manusia dapat melukiskan rasa cinta. Lewat sentuhan halus di kulit hingga satu kerlingan mata. Bahkan, menyusup ke hati yang kemudian memberikan sensasi geli di telinga. Ah, itu cuma rasa. Namun, layaknya hari yang mendebatkan sebuah Ahad atau Senin di awal minggunya, cinta seringkali menyesatkan manusia. Apalagi, jika birahi berusaha menerobos celah takwa. Hancur sudah pertemanan jiwa dan raga. Pongah katanya. Iya. Pongah akan kerinduan atau iri untuk menjadi utama. Atas nama hak yang lebih dari hak segala bangsa. Pongah katanya. Lalu, lihat apa yang kau lakukan jika si tamak mengajakmu berpetualang? Tak ada lagi simpati dan empati yang kau pegang. Hanya mengatakan cinta, cinta, cinta, hingga kau lupa bahwa hatimu kini penuh lubang. Yang kau lihat hanya bayanganmu sendiri di seberang! Bukan untaian doa atas nama rindu yang meradang. Katanya cintamu seluas tanah lapang. Lalu, kenapa nuranimu malah kau ikat di kandang? Bebal memang! Nah, akhirnya...