Catatan Hitam.
Sejatinya, manusia dapat melukiskan rasa cinta.
Lewat sentuhan halus di kulit hingga satu kerlingan mata. Bahkan, menyusup ke hati
yang kemudian memberikan sensasi geli di telinga. Ah, itu cuma rasa. Namun,
layaknya hari yang mendebatkan sebuah Ahad atau Senin di awal minggunya, cinta
seringkali menyesatkan manusia. Apalagi, jika birahi berusaha menerobos celah
takwa. Hancur sudah pertemanan jiwa dan raga. Pongah katanya. Iya. Pongah akan
kerinduan atau iri untuk menjadi utama. Atas nama hak yang lebih dari hak
segala bangsa. Pongah katanya.
Lalu, lihat apa yang kau lakukan jika si tamak mengajakmu
berpetualang? Tak ada lagi simpati dan empati yang kau pegang. Hanya mengatakan
cinta, cinta, cinta, hingga kau lupa bahwa hatimu kini penuh lubang. Yang kau
lihat hanya bayanganmu sendiri di seberang! Bukan untaian doa atas nama rindu
yang meradang. Katanya cintamu seluas tanah lapang. Lalu, kenapa nuranimu malah
kau ikat di kandang? Bebal memang!
Nah, akhirnya penyesalan datang menghajarmu. Yang
katamu indah berubah jadi kelabu. Tubuhmu layaknya dikoyak para serdadu
kemudian ditinggalkan tanpa rumah dengan puluhan cahaya lampu. Yang kau lihat
hanya cahaya api yang membakar asa-asamu hingga menjadi abu. Lalu,
bertahun-tahun kau kan menangis bersimpuh akan seluruh dosa-dosamu. Cintamu
yang dulu itu palsu. Tapi, tegaplah hai hamba Tuhan Yang Maha Tahu. Itu hanya
sebuah angka yang mesti kau lalui tuk menebus catatan hitammu. Toh, cinta itu
kan hadir selalu, di tengah-tengah para insan yang terus menuntut ilmu.
#katahatichallenge
#katahatiproduction
#harikedua
#365haribercerita
#ceritarima
#ceritapendek
#cerpen
#365hbc151
#sastra
Comments
Post a Comment