Posts

Showing posts from January, 2019

Telur Setengah Matang

Image
Tepat di Kamis malam ini, aku merebahkan seluruh harap di atas sajadah. Menutup seluruh auratku dengan mukena putih satin pemberiannya. Hening mengalun dan sebulir-dua bulir air keran di wajahku ikut bersaksi bahwa tiada nikmat lagi yang dapat kudustakan selain seluruh berkat dan rahmat yang telah diberikan oleh sang pemilik semesta. Tepat satu saf di depanku, pria dengan helaian panjang menjutai di punggung mengucapkan kalimat takbir sembari mengangkat tangannya yang kokoh nan lembut. Terang malam kami turut menyuguhkan tontonan baru di hidupku. Untaian surat-surat pendek yang terdengar semakin meyakinkanku, aminku terjawab. Sebuah kamar dengan jendela kaca besar di hadapan serta aroma bunga terasa hangat memelukku. Tiada harum yang tak bermakna pada kejadian pagi tadi. Sebuah akad telah terlaksana. MELATI - melat saka njero ati . Kami bersujud dalam ketulusan, dari hati terdalam. Kami saling mencintai karenaMu, Tuhan. KANTIL - kanthi laku tansah kumanthil.  Deng...

Orang Jelek Enggak Boleh Ngomong

Image
Sering mendengar kalimat ini? Ataukah hanya saya yang sering mendengarnya? Malam tadi, sesuatu meresahkan saya. Beberap bulan lalu, saya mampir di salah satu akun instagram yang membahas persoalan sensitif. Jujur saja, saya lupa perihal apa. Yang teringat hanyalah ini tidak jauh-jauh dari isu sensitif seputar agama. Saya, memosisikan diri sebagai pribadi yang mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tiba-tiba, seseorang dengan akun anonim berkomentar, "Pakai dulu hijabnya, baru berkomentar!" Wow, saya terkejut! Sebagai Aquarian , sikap tidak mau kalah dalam berdebat muncul. Saya bertanya mengapa saya tidak boleh berkomentar seputar agama hanya karena saya tidak berhijab? Namun, itu bukan kali pertama. Pernah suatu waktu, saya mengomentari akun komunitas orang tua di salah satu platform dunia maya. Entah mengapa, salah satu dari member berkomentar yang intinya sama, ibu tunggal kok bicara soal rumah tangga. Lah!   Memang tidak boleh? Ternyata, keresahan saya...

Berat Jadi Kepala

Berat Jadi Kepala Kugigit bibir merah merona Meninggalkan bekas gurat dalam di sela-selanya Rusak sudah polesan gincu untuk malam ini Kupulas lagi biar merona Nyatanya, tiada lagi sisa yang kupunya Para raja sudah menanti ratunya, Nduk! Hanya semalam saja Dan bisa kaulupakan perih merintih Demi darah-darah yang kau hidupi Lalu, bisa kau beli lagi polesan ternama Demi sariawanmu yang tertahan  Sudah! Aku tahu ke mana arahku Terjebak dalam topeng keriaan di bawah cahaya bulan Di tengah kota metropolitan Yang tak sembuh-sembuh menambah nanar di setiap sela tubuhku Yang terus bergerak meski gesper terus mencambuk punggung putihku Sudah! Aku tahu di mana tempat terbaikku Yang melindungi dan menghidupiku Yang menahanku dari terangnya pagi hari Karena kutahu, diriku bukan milikku Karena kutahu, diriku hanyalah diriku Jakarta, 28 Januari 2019 Nina Diets Puisi ini kubuat untuk tantangan dari kak @arcotransep dan kudedikasikan...

Tahu Bulat

Image
Bulan berakhiran -ber selalu saja dipenuhi rintikan hujan. Tak jarang, disertai angin yang dapat menyapu dedaunan di tengah jalan. Sungguh ini bukanlah hal yang menyenangkan. Entah apa yang dipikirkan para penyuka hujan itu. Mereka bilang kalau hujan itu menenangkan dan menyenangkan. Tidak untukku. Baru saja memoles motor kesayangan, hujan dengan jahilnya berhasil mencipratkan lumpur dalam waktu sekejap. Namun, sudahlah. Tuhan menurunkan rahmat-Nya bagi kami dan alam semesta bukan tanpa alasan. Aku melintasi jalanan menuju kantor dan kulihat seorang wanita berjalan di trotoar dengan jaket lepek yang membungkusnya. Namun, bukan itu saja yang kuperhatikan meski sesaat. Matanya berlinang dan tangan gemetarnya tampak memeluk kedua lengan atasnya. Haruskah aku menurunkan gasku dan menghampirnya? Aku gusar memikirkannya. Tidak, bukan gusar memikirkannya. Aku teringat diriku yang dulu, menatap wanita tercinta sedang meraba pipi seorang pria yang kukenal sejak SMA. Layaknya pemer...

Aku Tak Rindu Kampung Halaman

Image
"Lur, sampeyan ndak pulang?" "Ndak, Mbakyu. Lemburanku sedikit bulan ini. Tampaknya, bulan depan aku baru bisa mengunjungi ibuk dan bapak. Njenengan sendiri ndak berniat menjemput anak, tho?" "Gajiku sudah habis untuk keperluan uang pangkal sekolah anakku," jawabku sambil membakar sebatang rokok filter yang sedari tadi tersimpan di balik saku celana. Sore itu, aku dan Sigit tengah asik menikmati cahaya matahari kemerahan yang menyapu hampir separuh pandangan kami ke langit. Jakarta tampak lengang hari itu. Lebaran tampaknya tak cukup menjadi prioriatas bagi perantau seperti kami. Aku hanya menatap obrolan dari layar ponsel sembari sesekali memerhatikan dirinya yang tengah mengupas apel pemberian tetangga. Tak lama, ia membagikan sepotong besar untukku. Belum habis potongan apelku, serombongan remaja dengan satu ondel-ondel melewati kami. Berpakaian seperti pengamen pada umumnya, salah seorang dari mereka menghampiri kami dengan satu ember bek...

Guru Akan Hadir Ketika Murid Siap

Image
"Ketika luka disimpan terlalu lama, kita takkan menjadi kita. Bahkan, kata menjadi kumpulan aksara tanpa makna." Coba hitung berapa banyak wajah bahagia yang ada pada foto di atas? Entah, dari sekian banyak foto yang tersimpan dalam galeri ponsel di tahun 2018 lalu, foto inilah yang berhasil membalikkan titik terlemahku sekaligus menutup tahun dengan kejutan besar. Masih terekam jelas apa resolusiku di penghujung tahun 2017. Belajar. Meneruskan kuliah atau sekadar mempelajari hal baru yang mungkin belum aku ketahui. Dan... inilah yang Tuhan jawab. Pertemuan dengan orang tak terduga, tempat penuh makna, hingga pencarian jati diri akan seorang 'Karina'. Ibarat seorang balita yang digandeng ibunya ke sebuah taman kanak-kanak, ia bingung dan terkesima memandang warna-warni dinding sekolah, hingga akhirnya ia menjelma menjadi seorang sarjana dengan predikat kehormatan. Taman Kanak-Kanak Bukanlah hal mudah bagiku untuk melepas anak semata wayang di Jogja,...

Sedotan Besi

Hujan. Satu kata yang jadi pujaan banyak orang atau sekadar menjadi bahan tulisan di blog mereka. Kau tahu, aku juga salah satunya. Aku memang tak pandai mengartikan tetes demi tetesnya. Tak seperti untaian kata Zarry Hendrik yang di dalamnya tersisipkan energi besar untuk para pembaca setianya, atau mungkin orang yang ia kasihi. Bagiku, hujan layaknya kumpulan keajaiban yang dapat membawamu lebih dalam pada setiap momen. Entah itu kesedihan, keriaan, bahkan penyerta sebuah pertengkaran. Layaknya yang terjadi pada  kami beberapa hari lalu. Malam itu, aku memutuskan untuk membatalkan pertemuan kesekian kami hanya karena satu alasan. Lelah. Tak banyak yang bisa kuungkapkan selain kata maaf. Semua bermula ketika ia meninggalkanku pada acara makan malam pekan lalu. Eh, berarti itu bukan awal mulanya, kan? Oke, oke. Aku akan jujur. Aku cemburu. Cemburu melihatnya beberapa kali menyentuh bahu seorang wanita yang kutahu sebagai kenalan lamanya. Kenalan, Na? Menyentuh bahu? Apakah it...