Posts

Showing posts from June, 2018

Asupan Pekerja Kreatif Pemula

Image
Kelas Skenario (Salman Aristo), Saya Pengen Jadi Copy Writer (Budiman Hakim), Steal Like an Artist (Austin Kleon) Assalamu'alaikum, teman-teman. Hari ini hari terakhir bekerja di kantor dan tampaknya ada dua hal besar yang cukup menyita pikiran. Salah satunya adalah kerinduan dengan Kyan yang semakin besar menjelang mudik dua hari lagi dan satunya lagi adalah pekerjaan yang akan menanti setelah cuti nasional berakhir. Sensasi baru yang dirasakan setelah lebih dari setengah tahun menggeluti dunia kreatif. Yang sebelumnya terbiasa dengan kerja serabutan sebagai tukang gambar-banyak-masalah hingga hamba palugada-yang-penting-bisa-makan dan bisa mengobati sinus yang kian meradang. Alhamdulillah. Sungguh untuk lulusan SMA (secara belum resmi lulus mahasiswi Sastra Inggris), bekerja sebagai tim kreatif adalah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan sekaligus bikin penasaran. Betapa tidak, dimulai hanya menjadi seorang sekretaris redaksi yang tak bertahan lama, beralih ...
Image
Nak, rindu ini terasa begitu tajam tatkala pelukmu tak hinggap di dadaku. Tanpa tawa geli maupun tangis sedu sedanmu, tanpa celoteh maupun diammu. Apakah ini pertanda aku harus siap atau mungkin dirimu lah yang harus siap tanpa hadirnya diriku sebagai ibu? Entahlah, kita sama-sama belum tahu. Yang pasti, Tuhan mempersiapkan setiap hidup hamba-Nya yang terus mengadu. Jiwa ini tampaknya sudah semakin kaku untuk melihat banyak keinginan semu. Hanya cemas dan takut apabila seorang Karina tak dapat mewujudkan mimpimu. Tak ada yang indah selain surga, kata Ia Sang Maha Tahu. Namun, bagiku yang memiliki hidup setipis kain kacu, seorang Kirana sudah jauh lebih indah dari itu. Mati atau tak dapat hidup sendiri. Dua hal yang terlalu sulit untuk diterjemahkan meski ribuan pilihan sering hadir dalam diri tetapi jikalau itu yang kan datang sekarang atau nanti, biar aku membanjiri sedih dengan kata-kata yang menenangkan hati. Kepalaku berputar untuk mengetahui sakit atau tidaknya itu nanti...

Neraca Tirta

Hei, aku akan menceritakanmu kali ini. Bagaimana rumit dan recehnya diriku jatuh cinta pada seorang lelaki sepertimu. Ah, remeh temeh kalau urusan begini. Lebih baik biarkan jari ini menari tanpa satu pakem yang berarti. Entah bagaimana caranya mendobrak diammu sejak pertamaku ‘masuk’ hingga kini aku dapat melihat setiap jengkal pori-pori kulit yang tertutup kaus hitammu. Terasa aneh dan memberikan sensasi geli. Bagaimana jika tanggal enam belas itu tak pernah menjadi tanggal di mana aku meminta pulang kerja bersamamu. Tentunya tidak akan ada kecupan-kecupan hidungku yang hinggap di helai rambut panjangmu. Ah, tak pandai aku merangkai kata romantis. Toh, memang dirimu tak romantis, begitu pun aku. Jadi, jangan marah kalau kau orang pertama yang membuatku merasakan sensasi 'gelas merah' ala Fourtwnty di setiap senja tiba. Ingat malam itu? Ketika seorang lelaki gondrong nan seram tiba-tiba tersipu malu oleh tatapan janda muda-satu-anak ini? Haha. Sungguh aku gemas d...