Posts

Showing posts from July, 2018

Kompor Meledak

Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui,  deng . Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga. Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak ...

Panci Gosong

Tampak  tak menggairahkan. Seorang pria yang sudah tak muda lagi berdiri di hadapanku. Ah, hitam legam lagi. Namun, kalau diperhatikan, tidak sehitam yang kubayangkan. Hanya beberapa warna gelap di setiap lipatan kulit pergelangan tangan, leher, maupun lesung pipit manis yang terlihat nyata dengan senyuman pertamanya. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan malam ini agar tampak  lebih baik seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tak banyak yang ia utarakan selain kata 'iya', 'belum', atau sekadar dehaman. Ini adalah kali pertama ia menemukan wanita sepertiku, katanya. Ah, sudah beberapa pria berkata demikian. Lelaki seringkali berbohong, Lin! Namun, ada sensasi berbeda pada malam berhujan rintik kali ini. Nada bicara pria ini tak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk memilikiku. Raut wajahnya pun tetap datar. Entah apa aku yang terlalu lemas setelah menenggak setengah botol Amer  tadi atau memang ke-terlalu-biasa-annya membuatku terbuai. Bahkan, gerakan menyi...