Kompor Meledak
Pukul sebelas malam, akhirnya. Itu tandanya esok akan jadi hari libur tambahan tanpa harus pusing memikirkan pengajuan cuti yang merepotkan. Senyumku mengembang. Senyum yang jarang kutunjukkan kecuali sedang membuncahkan keinginan sesaat yang mendebarkan hati seseorang. Eh, dua atau tiga orang yang pernah ku temui, deng . Ku akui, aku terlalu mencintai bibir lebar nan tipis ini. Setidaknya, mereka yang menilai begitu sebelumnya. Para pria dengan rayuan pulau kelapa mereka itu selalu tak tahan untuk menyergap beberapa bagian badanku setiap kali manuver sederhana ku lakukan. Kecupan perlahan lalu tarikan-tarikan lembut untuk menjebak lumatan tebal mereka. Belum lagi, aku yang kan terus menahan lidah ini untuk tetap berada di tempat semestinya. Katanya, ini terlalu bahaya. Arus deras yang mengalir ke jantung takkan mau berhenti memburu mereka. Ah, andai mereka tahu bagaimana kerasnya aku menahan apa yang mereka rasakan juga. Namun, selalu ada pria berbeda di antara mereka. Tak ...